Jumat, 30 Maret 2012

BI: Aturan Uang Muka KPR Tinggi Tak Berlaku Bagi Kelas Bawah

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menegaskan aturan uang muka KPR minimal 30% tak bagi masyarakat kelas bawah. Pasalnya, BI tak mengatur KPR bank dengan luas bangunan 70 m2 yang notabene rumah kelas bawah dan subsidi tipe 36 m2.

"Aturan ini bagi segmen masyarakat kecil atau kelas bawah tidak berlaku. BI memandang aturan ini dikhususkan untuk masyarakat mampu yang akan membeli rumah dengan luas bangunan 70 m2 ke atas," ungkap Juru Bicara BI Difi Johansyah kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (16/3/2012).

"Oleh karena itu, bank bisa menyalurkan KPR dengan uang muka di bawah 30% bagi calon nasabah yang ingin memiliki rumah dengan luas dibawah 70 m2," imbuh Difi.

Difi menjelaskan, aturan ini pada dasarnya dibuat agar KPR bank lebih produktif dan 'aman'. Pasalnya selama 2008-2010 dan bulan terakhir 2011 pertumbuhan Kredit Kepemilikan Rumah/Apartemen (KPR/KPA) sedikit menurun, namun secara umum sejak tahun 2001 KPR dan KPA selalu tumbuh lebih tinggi dibanding kredit lainnya.

"Pada April 2011 pertumbuhan KPR sempat mencapai 40% (yoy) sementara kredit umumnya hanya naik 24%. Untuk posisi Desember 2011, KPR meningkat 32,9% (yoy) sementara kredit aggregat tumbuh 24,9%(yoy)," papar Difi.

Dikatakan Difi belakangan telah terjadi beberapa periode yang menunjukkan kenaikan harga properti yang meningkat. Pertumbuhan harga yang tertinggi hampir 20%.
(dru/dnl)
Sumber Detik Finance

Pengembang Mengakali Aturan DP 30% dengan Cicilan Uang Muka

Jakarta - Kebijakan peraturan Bank Indonesia (BI) terkait batasan uang muka (DP) Kredit Pemilikan Rumah (KPR) minimal 30% dalam jangka pendek akan mempengaruhi penurunan permintaan konsumen kelas menengah.

Meskipun kalangan pengembang optimistis masih bisa menarik konsumen karena sudah mempersiapkan strategi antisipasi terhadap kebijakan tersebut. Apalagi ketentuan ini hanya berlaku untuk rumah yang luas bangunannya diatas 70 m2.

Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (DPP REI) Djoko Slamet Utomo, mengatakan penurunan permintaan rumah kelas menengah tidak terlalu signifikan. Ia menyebutkan penurunan ini disebabkan keraguan konsumen untuk membeli rumah karena masih terkejut dengan keputusan BI.

Menurutnya, pengembang sudah terbiasa dan bisa mengantisipasi agar segmen marketnya tidak pindah atau lari.

"Kita bisa saja berikan tahapan dalam angsuran untuk pembayaran DP agar tidak memberatkan konsumen. Misalnya saja angsuran enam bulan jadi sembilan bulan. Atau bisa mengoptimalisasi serta mengefisiensikan biaya-biaya di sektor lain," kata Djoko saat dihubungi Harian Detik, Selasa (20/3/2012)

Pria yang juga pemilik perusahaan properti PT. Teguh Binangun Mukti ini menambahkan dengan keputusan minimal DP 30% akan membuat konsumen pindah ke pasar properti rumah yang lebih murah.

Ia menuturkan dengan kebijakan tersebut, konsumen kelas menengah yang paling berpengaruh. Hal ini disebabkan sebagian besar produk rumah dalam KPR komersial atau non subsidi adalah market kelas menengah dengan harga Rp 150 juta-Rp 450 juta per unit. Ia menuturkan rata-rata pengembang menawarkan uang muka rumah kepada konsumen berkisar 10-20%.

"Akan terjadi penurunan. Saya nggak bisa prediksi angkanya. Tapi, nanti di kuartal ketiga atau keempat tahun ini, pasar properti kembali normal seperti biasa karena ada strategi pengembang. Hanya awal-awalnya saja yang menurun," tambahnya.

Djoko menuturkan kebijakan Pemerintah melalui Bank Indonesia tersebut sebenarnya di satu sisi cukup bagus karena untuk mengendalikan pertumbuhan properti yang semakin tinggi. Ia menilai kebijakan pemerintah mengeluarkan keputusan ini lebih dikhawatirkan akan terjadi bubble bila tidak ada pembatasan dalam pembelian properti terutama perumahan.

"Tapi, kebijakan ini lebih mengena dampaknya terhadap ke market kelas menengah bukan kelas atas," tuturnya.

(hen/hen)
Detik Finance 

DP KPR 30%, Booking Rumah Bakal Menurun

Jakarta - Pengembang memprediksi masyarakat akan menunda pembelian rumah termasuk pemesanan rumah (booking) akibat aturan DP minimal 30%. Perlambatan bakal terjadi pada industri properti dalam tiga sampai enam bulan mendatang

Demikian disampaikan Ketua DPD REI Jakarta, Rudy Margono di Belleza Shopping Center, Permata Hijau, Jakarta, Senin (26/3/2012).

"Tentunya akan membatasi, namun kita bisa atur. Kan sebagai pengusaha kita punya akal dong, dengan DP dicicil lebih lama," katanya.

Ia menyebutkan, adanya aturan BI dan rencana kenaikan BBM membuat redup industri properti. Namun ini bersifat jangka pendek sekitar tiga sampai enam bulan. Terjadi penurunan permintaan (booking) rumah di area Jabodetabek.

"Penurunan bisa mencapai 5%-10% dari transaksi yang terjadi pada anggota kita yang mencapai 500 proyek," paparnya.

Alasannya masyarakat lebih mempertimbangkan untuk mengumpulkan uang muka terlebih dahulu sebelum memesan rumah. "Masyarakat hanya akan menunda pembelian sampai DP cukup. Terjadi adjustment tiga sampai enam bulan, apalagi ada rencana kenaikan BBM," paparnya.

Meski demikian ia mengaku, besarnya DP akan menguntungkan keduabelah pihak baik pengembang atau masyarakat. "Kita sambut baik karena transaksi lebih prudent," tegas Rudy.

Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso sebelumnya menyebut, aturan BI secara langsung menyasar kepentingan kalangan kelas menengah atas atau segmen rumah komersial.

Berdasarkan komposisi penjualan rumah anggota REI yang per tahunnya kurang lebih mencapai 120.000 unit. Umumnya sekitar 25% merupakan rumah kelas menengah, sementara itu 65% rumah kelas menengah bawah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan sisanya 10% adalah rumah-rumah kelas atas.

Seperti diketahui ketentuan BI ini hanya berlaku bagi pembelian rumah diatas tipe 70, berlakunya baru akan efektif 15 Juni 2012.

(wep/hen) 
Sumber Detik finance

Rabu, 28 Maret 2012

Bank Muamalat Tawarkan KPR Syariah

JAKARTA - Bank Muamalat mengeluarkan sistem baru untuk membantu masyarakat dalam memiliki hunian yang disebut Muamalat Consumer Center (MCC) 

Sistem ini berfokus pada pembiayaan hunian syariah muamalat (PHS) yang merupakan pembiayaan bagi kepemilikan rumah, rukan, ruko, kios dan apartemen. 

"Dengan adanya MCC ini proses pembiayaan yang semula memakan waktu satu minggu dipercepat persetujuannya menjadi tiga hari kerja. Jadi dalam tiga hari saja kredit rumahnya sudah bisa cair," kata Direktur Utama Bank Mumalat Arviyan Arifin dalam sambutannya pada acara Developer Gathering, di Jakarta, Rabu (28/3/2012).  

Produk ini, lanjutnya memberikan dua alternatif transaksi syariah bagi nasabah, yaitu secara kongsi (musyarakah mutanaqisah) ataupun jual beli (murabahah). 

Sitem kongsi dapat diterapkan untuk pemilikan properti baru (non indent), second, maupun take over. Adapun sistem jual beli dapat dipergunakan untuk properti indent, renovasi serta pembelian renovasi. 

"Pembiayaan Hunian Syariah (PHS)  memiliki plafon maksimal hingga Rp25 miliar. Plafond minimalnya senilai Rp50 juta untuk wilayah DKI Jakarta dan Rp25 juta untuk wilayah di luar DKI Jakarta," tambahnya. 

Pembiayaan yang khusus diperuntukan bagi kalangan individu ini memiliki jangka waktu pengambilan hingga 15 tahun, kecuali untuk kepentingan renovasi dengan plafon di bawah Rp25 juta hanya lima tahun. 

"Muamalat pun telah menurunkan margin hingga nilainya sekira 9,99 persen per annum," ujar Arviyan.(rhs)
Sumber Okezone

Trik Memilih KPR

INVESTASI di bidang properti memiliki profit tinggi seiring kenaikan harga properti. Bisa dikatakan, investasi di sektor ini memiliki return yang tinggi. Supply (ketersediaan) dan demand (permintaan) pun terus mengalami pertumbuhan.

Hampir setiap pengembang menyediakan layanan yang dibutuhkan untuk membeli unit rumah. Pengembang pun menggandeng bank untuk memberikan kemudahan bagi calon pembeli rumah. Bagi Anda yang ingin memiliki rumah dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah (KPR), ada baiknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut : 

1. Membandingkan dan mengetahui berbagai fasilitas KPR yang ditawarkan setiap bank. Berpikir bijak sebelum mengambil keputusan dan memilih paket KPR terbaik yang ditawarkan setiap bank.

2. Memilih bank dengan reputasi yang baik sambil membandingkan batas kredit yang ditawarkan untuk kelancaran proses KPR. Selain itu, pilihlah bank dengan jaringan yang luas agar mudah menjalankan proses KPR.

3. Mempersiapkan dana lebih saat memilih KPR. Memang uang tunai tidak menjadi prioritas bila menjalankan KPR. Namun, uang lebih ini dipersiapkan untuk pengurusan KPR di bank, seperti biaya administrasi, administrasi kredit, dan provisi kredit

4. Menentukan jangka waktu KPR. Hal ini penting karena semakin lama jangka waktu kredit, semakin besar pula total bunga yang harus dibayar. Di Indonesia, jangka waktu KPR dalam regulasi yang ditentukan adalah selama 15 tahun.

5. Memahami peraturan KPR dari awal pengajuan sampai kemampuan membayar cicilan setiap bulan. Anda harus memiliki kemampuan mengatur keuangan yang baik agar saat membayar cicilan tidak terganggu dengan rencana lainnya

6. Menyediakan dana down payment (DP) sebesar 30 persen dari total harga rumah. Dengan menyediakan DP, Anda sudah siap saat awal pengajuan KPR. 

(Anton C/Koran SI) (rhs)

DP KPR 30% Belum Berlaku Bagi Bank Syariah

JAKARTA - Pengaturan baru Bank Indonesia (BI) mengenai rasio Loan To Value (LTV) KPR oleh bank maksimal 70 persen, berlaku untuk rumah tipe di atas 70 meter persegi (m2). 

Sementara itu, aturan ini ternyata belum diberlakukan bagi bank-bank syariah. Hal ini dinyatakan langsung oleh Direktur Utama Bank Muamalat Arviyan Arifin. 

"Kami mendapat informasi bahwa kebijakan BI tersebut belum diberlakukan bagi bank syariah, seperti Muamalat," pungkasnya saat launching Muamalat Consumer Center di Jakarta, Rabu (28/3/2012).  

Sementara itu, untuk KPR rumah di bawah 70 m2 masih menggunakan besaran uang muka di bawah 30 persen.

"Muamalat saat ini membiayai nilai per unit rumah di bawah 70m2 hingga Rp500 juta," ujarnya. (rhs)
Sumber Okezone

Bank Muamalat Bantu Salurkan Kredit Rumah Subsidi

JAKARTA - PT Bank Muamalat akhirnya mengikuti jejak kelima bank umum dan konvensional lainnya dalam menyalurkan kredit program rumah bersubsidi dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). 

Direktur Utama Bank Muamalat Arviyan Arifin menyatakan, Bank Muamalat bersedia menyalurkan kredit FLPP ini semaksimal mungkin sesuai permintaan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera).

"Kami bersedia berapapun itu, mungkin sekira Rp1 triliun untuk tahun ini. Karena sesuai misi kami untuk menyejahterakan masyarakat dan membantu memajukan usaha pengembang-pengembang kecil dalam menyediakan rumah subsidi atau rumah murah bagi rakyat menengah kecil," katanya di sela penandatanganan MoU antara Bank Muamalat dengan Kemenpera, di Jakarta, Rabu (28/3/2012). 

Menurutnya, Bank Muamalat akan mengikuti seluruh ketentuan dalam penyaluran kredit ini termasuk suku bunga FLPP yang telah ditetapkan sebesar 7,25 persen. 

"Kami mengikuti semua aturan dari Kemenpera. Saya pun berharap kerja sama ini dapat dijalankan secepatnnya, karena kami sudah siap dari segi sistem operasional yang proses pencairan kreditnya lebih cepat," papar Arviyan. 

Selain itu, Bank Muamalat sendiri baru meluncurkan sistem Muamalat Consumer Center (MCC) yang berfokus pada pembiayaan hunian syariah (PHS), dengan jangka waktu atau tenor kredit hingga 15 tahun dan pencairan kredit yang cukup singkat hanya dalam waktu tiga hari maksimal untuk nilai rumah Rp500 juta. 

"Program MCC ini baru dapat diluncurkan untuk wilayah DKI Jakarta dan menyusul Bandung dan Surabaya dalam tahun ini. Sementara wilayah lainnya juga tetap dapat menikmati sistem ini lewat kantor cabang kami yang berjumlah 500 unit tersebar di 33 provinsi di Indonesia," tukasnya. 

(rhs)
Sumber Okezone

Minggu, 04 Maret 2012

BCA Tawarkan KPR Fixed Rate 8%

JAKARTA - Dalam rangka merayakan ulang tahun ke 55 BCA memberikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan bunga fixed rate sebesar delapan persen selama 55 bulan.

"Promo KPR berkaitan ultah 55, kita akan memberi kepastian nasabah BCA 55 bulan fixed rate 8,00 persen. 55 bulan itu hampir setara lima tahun. Kita berikan Fix, tidak berubah untuk 55 bulan dengan bunga 8,00 persen," ungkap Presiden Direktur Bank Central Asia Jahja Setiaatmadja saat ditemui di Ulang Tahun BCA ke 55, di Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (21/2/2012).

Dia menambahkan, KPR BCA ini tidak akan membebankan biaya tambahan saat pembayaran tersebut jatuh tempo, sehingga nasabah tidak langsung mendapatkan bunga tinggi.

"Jadi kalau Anda ambil KPR, lalu jatuh tempo, Anda bisa lakukan pembayaran tanpa penalti. Tempat lain kena 2,00-3,00 persen. Kita nggak, bebas (tetap)," jelas dia.

Selain itu, Jahja mengatakan nasabah juga diberikan paket lain yang bunganya tidak sampai double digit.

Sekadar informasi, per 2011 penyaluran KPR BCA telah mencapai Rp28 triliun, tumbuh Rp10 triliun dari tahun sebelumnya Rp18 triliun. (rhs)

Sumber Property Okezone 

Pertumbuhan KPR CIMB Niaga Capai Rp182,63 T

JAKARTA - Kredit properti PT Bank CIMB Niaga Tbk didorong oleh segmen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kepemilikan Apartemen (KPA) tumbuh hingga Rp182,63 triliun.

"Kami bersyukur karena sejak dari awal CIMB termasuk bank yang sudah aktif di KPR," ujar Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Arwin Rasyid usai pemaparan kinerja keuangan 2011 CIMB di Niaga Tower, Jakarta, Rabu (22/2/2012).

Menurutnya, sebelum menjadi CIMB Niaga, bank yang dulunya bernama Bank Niaga itu merupakan bank kedua terbesar di bisnis KPR yang menjadi suatu lahan yang diminati bank-bank lain terutama oleh bank-bank besar.

Arwin menambahkan saat ini total KPR yang telah dikucurkan Bank CIMB Niaga mencapai Rp 18 triliun dan diharapkan bisa bertambah Rp5 triliun sepanjang 2012 ini.

(rhs)
Sumber property okezone 

Bank CIMB Niaga Beri Suku Bunga KPR 9,5%

JAKARTA - Bank CIMB Niaga memiliki kebijakan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dengan persentase single digit, yakni di kisaran sekira 8,5 hingga 9,5 persen.

Hal itu diungkapkan oleh Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Arwin Rasyid seusai pemaparan kinerja keuangan 2011 di Niaga Tower. "Suku bunga KPR kita single digit di kisaran 8,5 sampai 9,5 persen. Besaran itu tergantung kerja sama dengan developer (pengembang) rumah," kata Awrin di Jakarta, Rabu (22/2/2012).

Menurutnya, pertumbuhan kredit properti tersebut didorong oleh segmen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kepemilikan Apartemen (KPA) yang tembus Rp 182,63 triliun.

Sebagai informasi berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI) kredit Sektor properti yang disalurkan perbankan hingga Desember 2011 mencapai Rp 301,27 triliun.

"Angka tersebut meningkat 24 persen dibandingkan 2010 sebesar Rp241,65 triliun," pungkasnya.
(rhs)

Sumber Property Okezone 

Hindari 3 Kesalahan Saat Ajukan KPR

JAKARTA - Suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) secara keseluruhan memang tengah bersahabat bagi Anda yang berencana untuk membeli rumah. Namun, bukan berarti Anda langsung mengajukan KPR tanpa merencanakan keuangan terlebih dahulu.

Pasalnya, untuk mengajukan KPR bukan perkara biasa yang bisa diputuskan secara tiba-tiba. Tidak jarang orang terjebak dengan kondisi keuangan pasca mengajukan KPR.

Berikut merupakan kesalahan yang kerap dilakukan ketika mengajukan KPR, seperti yang dikutip dari laman AOL Real Estate, Jumat (24/2/2012):

1. Estimasi harga rumah dengan finansial meleset
Banyak salah memperhitungkan cicilan bulanan dengan kondisi finansial seseorang. Kesalahan ini biasanya dilakukan ketika membeli rumah seken.

Pasalnya, kadang beberapa penjual rumah seken memiliki standar harga rumah yang berbeda, yang berpengaruh terhadap cicilan setiap bulan.

2. Tidak ambil kesempatan
Boleh jadi ketika suku bunga KPR tengah turun Anda segera mengajukan KPR. Hal ini disebabkan karena downpayment dan cicilan rumah yang disetujui bank biasanya mengikuti dinamisnya suku bunga.

Bila sudah menganalisis kondisi finansial Anda, segera ambil kesempatan langka. Tetapi jika Anda ingin membeli rumah seken, pastikan Anda membuat kesepakatan yang aman dengan penjual rumah seken.

3. Mengabaikan jangka waktu KPR
Poin ini merupakan poin yang kerap dilalaikan oleh calon pembeli rumah baik yang mengajukan KPR. Bila pengajuan KPR sudah disetujui pihak bank, langkah selanjutnya Anda menganalisis jangka waktu KPR yang disediakan bank, biasanya 15-30 tahun.

Jangan terpaku dengan jangka waktu KPR yang terlalu panjang. Jika bujet mencukupi, kenapa tidak mengambil KPR dengan jangka waktu yang lebih pendek.
(rhs)

Sumber Property Okezone 

KPR Solusi untuk Membeli Rumah

PENYALURAN kredit kepemilikan rumah (KPR) saat ini semakin gencar dipromosikan pihak perbankan. Kerja sama dengan para pengembang serta penawaran beragam suku bunga rendah pun ditawarkan perbankan.

Bagi konsumen dengan kemampuan finansial tinggi, membeli rumah tidak menjadi masalah. Namun, untuk sebagian konsumen dengan kemampuan finansial menengah, membeli rumah adalah hal yang berat. KPR saat ini menjadi solusi bagi nasabah atau konsumen yang ingin memiliki rumah.

Hingga sekarang, banyak perbankan yang bekerja sama dengan pengembang yang menyediakan KPR. Begitu juga dengan beberapa agen properti yang menyediakan KPR, misalnya untuk unit rumah secondary.

Dalam praktiknya, promosi gencar KPR yang dilakukan perbankan memang memudahkan konsumen. Namun, kadang juga bisa membingungkan konsumen untuk memilih KPR yang tepat. Sebelum memutuskan, konsumen harus bisa membandingkan suku bunga rendah yang ditawarkan setiap bank. Suku bunga rendah sekarang masih dipilih sebagai tawaran yang terbaik. Suku bunga menjadi faktor penting karena memengaruhi jumlah cicilan yang harus dibayar setiap bulan.

Secara jeli, konsumen juga harus bisa memprediksi dan mengetahui bahwa suku bunga yang ditawarkan harus tetap ringan. Jadi, suku bunga tidak hanya menarik saat satu sampai dua tahun pertama, namun saat suku bunga peninjauan, jumlah yang ditawarkan harus tetap ringan.

Konsumen tidak perlu cemas karena masih ada bank yang memberikan suku bunga rendah. Bank tersebut juga memberikan angsuran ringan serta bunga peninjauan yang stabil dan rendah setelah masa fixed satu dan dua tahun terakhir.

Fasilitas KPR saat ini mencakup bank konvensional serta bank syariah. Dengan memanfaatkan fasilitas KPR, harga rumah lebih terjaga dan konsumen bisa langsung menempati rumah yang dicicilnya. Selain itu, indikator harga properti yang cenderung selalu naik memberikan keuntungan dengan harga yang lebih terjaga bila menggunakan KPR. Dibandingkan bila konsumen harus menabung untuk membeli rumah dengan tolok ukur harga properti yang selalu cenderung naik sehingga akan kesulitan menyesuaikan budget-nya.

Selain primer, pembelian produk properti secondary juga gencar dipromosikan dengan menggunakan KPR. Rata-rata bunga KPR di Indonesia berkisar 11–12 persen dengan acuan BI rate enam presen. Perbankan saat ini semakin gencar menawarkan fasilitas KPR karena banyak produk rumah primer yang dibangun pengembang. Menjelang akhir tahun, beberapa perbankan menawarkan fasilitas KPR yang bekerja sama dengan sejumlah pengembang. Nilai suku bunga yang diberikan juga beragam. Meskipun produk primer menggeliat,permintaan secondary saat ini masih tinggi.

Misalkan di Jakarta yang lahannya sudah terbatas, peluang properti secondary Ibu Kota semakin diminati. Beberapa kawasan di Jakarta dengan produk secondary masih diminati adalah Kelapa Gading dan Pluit. Untuk primer, kawasan Jakarta banyak yang dibangun di dekat atau di area Central Business District (CBD). Namun, untuk kawasan penyangga Ibu Kota seperti Serpong, pembangunan properti primer saat ini lebih dominan.

Sementara, untuk kota lain seperti Surabaya, permintaan properti primary dan secondary untuk rumah lebih sama perbandingannya. Sejumlah perbankan juga menyediakan fasilitas KPR untuk beberapa daerah di luar Jakarta. Di luar Ibu Kota, permintaan properti primer seperti rumah lebih tinggi karena lahan di Jakarta yang sudah penuh.

(Anton C/Koran SI)

Trik Memilih KPR

INVESTASI di bidang properti memiliki profit tinggi seiring kenaikan harga properti. Bisa dikatakan, investasi di sektor ini memiliki return yang tinggi. Supply (ketersediaan) dan demand (permintaan) pun terus mengalami pertumbuhan.

Hampir setiap pengembang menyediakan layanan yang dibutuhkan untuk membeli unit rumah. Pengembang pun menggandeng bank untuk memberikan kemudahan bagi calon pembeli rumah. Bagi Anda yang ingin memiliki rumah dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah (KPR), ada baiknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

1. Membandingkan dan mengetahui berbagai fasilitas KPR yang ditawarkan setiap bank. Berpikir bijak sebelum mengambil keputusan dan memilih paket KPR terbaik yang ditawarkan setiap bank.

2. Memilih bank dengan reputasi yang baik sambil membandingkan batas kredit yang ditawarkan untuk kelancaran proses KPR. Selain itu, pilihlah bank dengan jaringan yang luas agar mudah menjalankan proses KPR.

3. Mempersiapkan dana lebih saat memilih KPR. Memang uang tunai tidak menjadi prioritas bila menjalankan KPR. Namun, uang lebih ini dipersiapkan untuk pengurusan KPR di bank, seperti biaya administrasi, administrasi kredit, dan provisi kredit

4. Menentukan jangka waktu KPR. Hal ini penting karena semakin lama jangka waktu kredit, semakin besar pula total bunga yang harus dibayar. Di Indonesia, jangka waktu KPR dalam regulasi yang ditentukan adalah selama 15 tahun.

5. Memahami peraturan KPR dari awal pengajuan sampai kemampuan membayar cicilan setiap bulan. Anda harus memiliki kemampuan mengatur keuangan yang baik agar saat membayar cicilan tidak terganggu dengan rencana lainnya

6. Menyediakan dana down payment (DP) sebesar 30 persen dari total harga rumah. Dengan menyediakan DP, Anda sudah siap saat awal pengajuan KPR.

Sumber Property Okezone