Kamis, 20 Oktober 2011

Prosedur Kredit Pemilikan Apartemen


Prasyarat pembiayaan apartemen tidak jauh berbeda dengan KPR. Di BRI, calon debitur harus memenuhi syarat seperti uang muka minimal 20% dari nilai barang, serta pengisian formulir dilengkapi beberapa dokumen kredit. Kemudian, pemohon debitur harus berusia 21 tahun, memiliki pekerjaan tetap dan membuka Rekening BRItama.
Yang membedakan dengan KPR hanyalah jangka waktu. "Di KPA kami mempersingkat jangka waktu selama 10 tahun," terang Joice. Dari sisi bunga, BRI mematok sama dengan bunga KPR, yakni 9,5% fixed 2 tahun. Pada tahun ketiga bunga menjadi 9,75% dan tahun kelima sebesar 11%.
BRI memberikan pembiayaan KPA mulai Rp 200 juta - Rp 5 miliar. Sejauh ini Jakarta masih menjadi kota paling besar penyerap KPA. Sisanya, Surabaya, Bali, Bandung dan Balikpapan.
Usia debitur antara 24 tahun sampai 65 tahun. Mereka terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pekerja dengan penghasilan tetap seperti pegawai dan tak berpenghasilan tetap, yang menjadi profesional atau pengusaha. Sayang Joice enggan menyebut jumlah debitur mereka di KPA.
Untuk menghindari risiko gagal bayar, BRI selektif dalam memberikan pembiayaan kepada debitur. Menurut Joice, para debitur harus memiliki kemampuan pembayaran sesuai dengan utang. BCA lebih ketat lagi. Bank juga mengecek rekam jejak nasabah KPA ke sistem informasi debitur atau SID.
Dari situ terlihat kemampuan mereka membayar angsuran dan akan dibandingkan dengan penghasilannya. "Terakhir, akan ada survei ke tempat kerja calon debitur," terang Henry. Lewat cara ini, BCA mengklaim, tingkat NPL 0% untuk KPA-nya.
 
 

KPA masih sanggup tumbuh 15% per tahun

JAKARTA. Minat masyarakat memiliki apartemen memang tidak sebesar keinginan mempunyai rumah. Selain harganya selangit, konsumen juga masih menganggap, apartemen bukan tempat tinggal ideal. Bagi mereka, hunian harus menapak tanah, memiliki taman ataupun pekarangan yang cukup untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan bertetangga. Bukan tinggal di hunian jangkung dan asosial.
Makanya, demi memiliki rumah, banyak masyarakat kita memilih tinggal di pinggiran Jakarta dan bersedia menghabiskan umur di jalan. Mereka juga tidak peduli berat di ongkos atau penurunan kualitas hidup karena stres berjam-jam berkubang di kemacetan, dari rumah menuju tempat aktivitas di tengah kota.
Itu sebabnya, angka penyaluran kredit pemilikan apartemen (KPA) belum terlalu signifikan, kendati pasokan apartemen baru terus membanjiri pasar. Padahal, KPA merupakan salah satu cara jitu memiliki apartemen yang harganya relatif tinggi. Misalnya saja Apartemen Verde, Kuningan, Jakarta Selatan yang menawarkan harga antara Rp 3,3 miliar hingga Rp 10 miliar per unit.
Kendati begitu, Verde tetap laris manis. "Lokasi Verde yang berada di CBD membuat penjualannya cepat," kata Julius Warouw, Senior Manajer Penjualan Farpoint
Kendati masih minim, bank tetap menjajakan KPA. Di Bank Central Asia (BCA) misalnya, penyaluran KPA hanya 10%, selebihnya kredit pemilikan rumah (KPR). Bahkan di BNI komposisi KPA baru sekitar 5%. Sementara di Bank Rakyat Indonesia (BRI), KPA menyumbang 20%.
Joice Farida, GM Kredit Konsumen BRI mengatakan, meski permintaan tidak terlalu besar, KPA masih sanggup tumbuh 15% per tahun. Angka ini sekaligus mencerminkan peluang pasar yang bisa dimaksimalkan. "Mindset mulai bergeser. Masyarakat kini lebih menyukai tinggal di tengah kota agar lebih dekat dengan pusat aktivitas," katanya.
Memang, pergeseran itu belum signifikan, tapi trennya terus meningkat. "Masyarakat juga menganggap tinggal di apartemen menjadi gaya hidup," kata Joice.
Henry Koenaifi, Direktur Konsumen BCA menambahkan, faktor keamanan juga mendorong kepemilikan apartemen sebagai hunian ketimbang rumah. "Kalau situasi tiba-tiba memburuk, penghuni tinggal pindah. Lebih praktis," terang Henry.
Tidak hanya alasan sosial, masyarakat juga memanfaatkan apartemen sebagai investasi. Tidak sedikit pembeli yang menyewakan kembali apartemen mereka dan menjual ketika harga sudah naik tinggi. "Debitur kami ada yang mengajukan pinjaman kondominium hotel di beberapa kota pariwisata seperti Bali dan Balikpapan," kata Joice.
Tapi, sebagai instrumen investasi, harga apartemen tidak bertahan seperti rumah. Nilai jualnya bisa jatuh jika penghuni apartemen meninggalkan huniannya. "Misalkan satu tahun kosong, harga apartemen bisa rontok," kata Henry.
Jika Anda ingin menjadikan apartemen sebagai wahana investasi, pilihlah produk pengembang ternama dan memiliki reputasi. Kemudian, lokasi harus tepat di tengah kota. "Kami hanya memberikan pembiayaan bagi pengembang ternama dan tercatat sebagai nasabah," kata Henry. Jumlah developer rekanan BCA tak lebih dari 10 perusahaan.
BRI bekerjasama dengan 50 pengembang. Beberapa di antaranya Summarecon, Ciputra, dan Agung Podomoro. "Kami juga bekerjasama dengan developer baru. Asal lokasi proyek di tengah kota dan prospeknya bagus," kata Joice. Kerjasama dengan beberapa developer, juga membantu bank mencegah kredit macet.
Total kredit konsumer BRI per September 2011 ini mencapai Rp 43,3 triliun. Sebanyak Rp 7,95 triliun merupakan kredit properti. Dari jumlah tersebut, KPA berkontribusi 15%. BCA membukukan KPA sekitar Rp 1 triliun. Sementara KPR Rp 8 triliun.

Sumber Keuangan Kontan

Selasa, 11 Oktober 2011

Program KPR Subsidi Terganjal Syarat NPWP dan SPT

Jakarta - Proses kepemilikan rumah sederhana dengan skema subsidi bunga oleh pemerintah melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) masih mengalami kendala.

Kendalanya masih banyak masyarakat di daerah cukup kecewa dengan syarat yang diwajibkan pemerintah, yaitu harus memberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan Surat Pemberitahuan Pajak (SPT).

Demikian diungkapkan oleh Direktur BTN Irman Zahirudin dalam konferensi persnya di Gedung BTN, Harmoni, Jakarta, Rabu (20/7/2011).

"Penyaluran FLPP itu ada sedikit hambatan dimana permintaan masyarakat banyak yang tidak terpenuhi karena diwajibkannya penyampaian NPWP dan SPT dalam aplikasi syarat awal pengajuan rumah," jelas Irman.

Hal ini menurut Irman mengakibatkan ciutnya para calon debitur. Pasalnya, lanjut Irman banyak juga ternyata yang tidak memiliki NPWP dan SPT.

Terlepas dari masalah tersebut, lebih jauh Irman menyampaikan, saat ini melalui FLPP sudah tersalurkan 40.500 unit rumah dan direncanakan bisa mencapai 120.000 unit rumah. "Jadi diharapkan sekitar 80.000 rumah lagi bisa tercapai," katanya.

BTN sendiri mematok bunga kredit tetap sebesar melalui FLPP sebesar 8,15-9,95% per tahun selama 15 tahun kepada calon debitur yang memiliki penghasilan tetap sekitar Rp 2,5-4,5 juta per bulan.

BTN siap memfasilitasi pembuatan 24.000 KPR sejahtera tapak (RSh) dan 1.500 KPR sejahtera susun terkait program FLPP tersebut.

Pemerintah memang berencana membangun 121.426 unit KPR sejahtera tapak senilai Rp 5,9 triliun dan 2.914 unit KPR sejahtera susun senilai Rp 299 miliar, keduanya memakai kredit konvensional dengan total nilai Rp 6,2 triliun.

LPP bertujuan memberikan kesempatan masyarakat yang memenuhi persyaratan kredit rumah yang dibeli dari pengembang, dengan cicilan lebih ringan dari yang berlaku saat ini.

Bagi masyarakat yang sudah memiliki KPR konvensional pun, bisa mengkonversi menjadi KPR dengan FLPP dan segera menikmati bunga rendah. Penetapan bunga yang lebih rendah ini disebabkan karena masuknya FLPP dalam pembiayaan kredit perumahan bagi seluruh masyarakat. Porsinya bahkan mencapai 50% dari total nilai KPR.

sumber Detik

Wow! Bunga KPR Bank Saat Ini Terendah Sejak Merdeka

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat rata-rata suku bunga Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) sebesar 11%. Ternyata suku bunga tersebut tercatat paling rendah yang pernah ada.

Bahkan beberapa bank berani menawarkan bunga KPR dibawah 10%.

"Suku bunga KPR bank saat ini adalah yang terendah yang pernah ada indonesia yaitu untuk beberapa bank sudah dibawah 10%," ujar Analis dan Pengamat Perbankan Mirza Adityaswara kepada detikFinance di Jakarta, Minggu (24/7/2011).

Menurut Mirza, karena bunga KPR rendah maka permintaan hal ini yang menyebabkan bank ramai-ramai mengucurkan kredit KPR walaupun marjinnya rendah.

"Dari sisi laba sebenarnya marjin memberikan kredit KPR bagi bank tidak tinggi, tapi dari sisi permodalan cukup efisien karena KPR bobot resiko dalam perhitungan CAR (Rasio Kecukupan Modal) hanya 40 persen sehingga lebih hemat modal bagi bank memberikan kredit KPR dibandingkan kredit kepada korporasi," paparnya.

Selain itu KPR kepada debitur, lanjut Mirza untuk membeli rumah pertama cenderung Rasio Kredit Macet (NPL) nya rendah. Hal ini dikarenakan debitur akan tepat bayar ke bank.

"Kan debitur tidak ingin kehilangan rumahnya," kata Anggota Dewan Komisioner LPS ini.

Dihubungi secara terpisah, Pengamat Perbankan yang juga Komisaris PT Bank Mandiri Tbk Krisna Wijaya mengatakan dilihat dari faktor risiko, sektor properti masih relatif rendah.

"Pertama, karena kebutuhannya belum jenuh. Kedua, sektor properti sebagai sarana investasi (jual beli atau hasil sewa). Karakteristik seperti itu membuat bank tertarik," jelasnya.

Berikut ini data Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) KPR pada 10 bank seperti tertuang dalam situs resminya :




  1. Bank Mandiri : 11,75%.
  2. BNI : 12,72%
  3. BCA : 9,50%
  4. BII : 11,75%
  5. Bank Danamon : 12,50%
  6. Bank Permata : 12,00%
  7. Bank Panin : 12,27%
  8. BRI : 11,49%
  9. BTN : 10,85%
  10. Bank CIMB Niaga : 11,25%
  Somber Detik


Kamis, 06 Oktober 2011

KPR iB : Lebih Murah dan Menentramkan

.

KPR iB : Lebih Murah dan Menentramkan

REP | 10 January 2011 | 18:50 489 4 Nihil

Sektor properti di Indonesia saat ini sudah mulai  bergairah. Hal ini terbukti dengan dimulainya banyak pembangunan proyek properti baru seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian. Bisnis properti pada tahun ini diprediksikan akan terus membaik. Para pengamat properti memperkirakan pasar properti tahun 2011 akan  tumbuh sekitar 15 %.
Meningkatkan pasar properti ini tidak terlepas dari masih tingginya kebutuhan masyarakat akan rumah, yakni mencapai 6 juta unit dengan pertumbuhan 800.000 unit per tahun. Sedangkan yang bisa dipenuhi oleh pengembang REI hanya sekitar 200.000 unit per tahun.Sejalan dengan tumbuhnya sektor properti maka sektor kredit untuk perumahan pun juga mengalami pertumbuhan yang cukup besar. Menurut data BI secara tahunan (year on year/yoy) dibanding Agustus 2009, kredit perumahan tumbuh Rp4,2 triliun atau 3,1 persen dari Rp133 triliun menjadi Rp137,2 triliun. Meningkatnya pertumbuhan KPR disebabkan semakin banyaknya perbankan yang terjun membiayai sektor KPR ini. Selain bank umum konvensional, saat ini juga telah ada beberapa bank umum syariah dan unit usaha syariah yang ikut meramaikan pasar properti dengan pembiayaan pola syariah.
KPR Syariah
KPR Syariah atau sering disebut dengan KPR iB (Islamic Banking) merupakan salah satu alternative bagi masyarakat untuk mendapatkan segala kebutuhan yang berkaitan dengan perumahan dengan akad syariah. Produk KPR iB ini semakin diminati masyarakat sejalan dengan semakin dikenalnya bank syariah di Indonesia. Apalagi dengan semakin banyaknya bank syariah yang beroperasi di Indonesia. Hingga Oktober ini setidaknya terdapat 11 bank umum syariah, 23 unit usaha syariah dan 146 bank perkreditan syariah di Indonesia. Sebagian besar bank syariah tersebut juga melayani pembiayaan kepemilikan rumah bagi para nasabahnya.
Menurut Imam Hidayat, Pemimpin Cabang BNI Syariah Surabaya, berkembangnya KPR syariah ini tidak terlepas dari berbagai keunggulan fitur produk KPR syariah yang tidak dimiliki oleh KPR konvensional. Dari sisi tujuan penggunaan, manfaat KPR syariah kurang lebih sama dengan KPR konvensional, yakni dapat digunakan untuk membiayai pembelian rumah baru maupun rumah second,  pembelian rumah susun, apartemen, villa, kondominium, pembelian kavling siap bangun, pembelian ruko dan rukan. Bahkan KPR syariah dapat digunakan untuk membiayai pembangunan rumah dan renovasi rumah, pembelian rumah indent, dan take over pembiayaan dari bank lain.
“Kontrak yang sering dipakai dalam pembiayaan perumahan secara syariah ini adalah akad jual beli (murabahah). Dalam transaksi jual beli ini bank syariah akan mendapatkan margin keuntungan dari harga jual rumah kepada nasabah. Jadi keuntungan yang diperoleh bank syariah sudah dapat diketahui sejak awal dan jumlahnya bersifat tetap” terang Imam Hidayat di ruang kerjanya.
Hal ini yang membedakan dengan bank konvensional, dimana bank konvensional memperoleh pendapatan dari bunga pinjaman KPR. Bunga KPR ini umumnya tetap hanya untuk periode tertentu, misalnya bunga tetap untuk satu tahun atau dua tahun. Bahkan ada bank yang menetapkan bunga tetap hanya untuk jangka waktu 6 bulan. Untuk menarik nasabah maka bank umumnya akan menawarkan suku bunga yang rendah untuk  periode tertentu.
Setelah habis masa bunga tetap ini, maka suku bunga KPR konvensional akan direview  setiap bulan mengikuti suku bunga yang berlaku di pasar dan umumnya bunga KPR konvensional akan cenderung naik sehingga angsurannya per bulannya juga naik. Jarang dijumpai bunga KPR konvensional akan direview untuk turun angsurannya. Karena ketidakpastian angsuran bulanan ini, banyak nasabah yang sulit memprediksi kebutuhan untuk angsuran. Apalagi umumnya angsuran KPR bersifat jangka panjang, sampai dengan 20 tahun.
Menurut Imam Hidayat, memang besarnya angsuran KPR syariah umumnya sedikit lebih besar dibanding angsuran KPR konvensional. Namun dengan angsuran tetap sampai dengan jatuh tempo pembiayaan, maka nasabah tidak perlu khawatir adanya fluktuasi suku bunga pasar. Kalau dihitung secara total maka KPR Syariah ini biasanya lebih murah dinadingkan konvensional. Disisi lain dengan angsuran yang bersifat tetap maka nasabah akan merasa lebih tenang dan bisa merencanakan kebutuhan keuangannya dengan lebih pasti.
“Bahkan kami banyak menerima take over dari nasabah KPR bank konvensional” kata Imam Hidayat. Menurutnya penuturan nasabah KPR konvensional tersebut, mereka merasa kapok dan tidak tenang, karena setelah pinjamannya jalan satu tahun maka angsurannya  terus mengalami kenaikan setiap bulannya. Memang bank konvensional umumnya akan mereview angsuran, setelah KPRnya berjalan 1 tahun. Kalo di bank syariah hal tersebut tidak akan terjadi karena besarnya angsuran setiap bulan telah disepakati sejak awal pada waktu akad dan tidak pernah berubah sampai dengan pembiayaan tersebut luas.
Disisi lain dalam KPR konvensional, umumnya bank akan mengenakan pinalty jika nasabah melunasi pinjamannya sebelum jatuh tempo. Misalnya jika pinjaman baru berjalan 2 tahun dan nasabah akan melunasi, maka selain membayar sisa pokok pinjaman, nasabah juga diharuskan untuk membayar penalty sekitar 2-3 persen dari sisa kewajiban. Sedangkan dalam KPR syariah, nasabah tidak akan dibebani dengan penalty jika akan menyelesaikan angsurannya sebelum jatuh tempo. Dan yang pasti dengan akad syariah yang terbebas dari riba maka kepemilikan rumah dengan KPR syariah akan menjadi lebih barokah.
sumber Kompasian

KPR Syariah Mana yang menguntungkan

Saya sudah survey ke tiga bank (BTN syariah, BNI Syariah atau Bank Mandiri Syariah) dan saya pribadi paling cocok dengan BNI Syariah. Contoh kasus :
1. Niaga Syariah :
Plafond 200 juta.
Masa cicilan 10 tahun
Suku bunga 13 % (effektif)
Maka didapat cicilan perbulan = 2,986,214.80
Jika ingin melunasi di akhir tahun ke-5(bulan ke-60), sisa Pokok Hutang =132,792,094.41

2. BNI Syariah
Plafond 200 juta.
Masa cicilan 10 tahun
Suku bunga 8.25% (flat)
Maka didapat cicilan perbulan = 3,041,666.667
Jika ingin melunasi di akhir tahun ke-5 (bulan ke-60), sisa Pokok Hutang =100,000,000

Terlihat kan keuntungan masing-masing…
Untuk Mandiri Syariah, bunga/margin yg dibebankan tinggi banget, untuk masa 10 tahun kena 16,10 % (effektif) (wajar menurut saya, soalnya saya punya simpanan di bank ini, bagi hasilnya cukup tinggi, di atas BCA dan BNI, tapi masih di bawah Muamalat). Niaga syariah ngambil bunga/margin 13% (effektif), sedang BNI 8,25% (flat)
Sumber Blog Bicararumah

Cara Apply KPR

Nahh..untuk post kali ini.. kita akan berbicara mengenai cara apply KPR / KPA! :))
Seperti kita yang kita ketahui, KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dan KPA (Kredit Pemilikan Apartemen) itu ialah salahsatu kredit yang baik, dengan catatan kita bisa mengelolanya dengan baik. Mengapa? Karena harga property cenderung naik (tentunya dengan memperhitungkan berbagai kondisi seperti; letak, demand, bahan bangunannya, dsb). 
Mengapa Kita Perlu Apply KPR/KPA?
Berikut paragraf yang saya kutip dari post saya sebelumnya :)
.Sedikit contoh sederhana
Ngomong - ngomong soal beli rumah ataupun asset - asset property tadi. Yah, syukur - syukur kalau misalkan situ ada duit dan beli langsung secara cash. Nah kalau permisalkan ga ada duit?

Harga property seperti rumah kan tidak murah masbro! :-S

Rumah layak tinggal dan cukup gun-thankz untuk diliat saja sekarang (pada tahun 2011) berkisaran di harga RP. 800 jutaan - Rp. 1,2 milyaran. Kalau permisalkan ente pade punya duit cuma Rp. 200 jutaan trus kerja lagi....nabung... 5 tahun kemudian setelah tabungan sudah Rp. 800jutaan... mungkin harga rumah tersebut sudah Rp. 1,5 - 2 milyaran. Ya kalau begitu kapan dapatnya? -_____-" itulah salah satu kegunaan KPR (kredit pemilikan rumah).
Kegunaan lainnya ialah; memutar uang yang ada, menghindari pajak, dll... :)
.Kembali lagi pada KPR dan KPA
KPR dan KPA sebenarnya kurang lebih berarti sama, yaitu ; kredit yang diberikan kepada perorangan untuk keperluan pembelian rumah tinggal, apartemen, ruko (rumah toko), rukan (rumah kantor), atau tanah.
Perbedaan yang mendasar mungkin ialah nilai tunai-nya. Jika KPR cenderung fasilitas yang di berikan bank ialah 80 % dari nilai appraisal. Sedangkan pada KPA cenderung berada pada 70% dari nilai appraisal.

Appraisal sendiri arti kamus metalnya ialah pengukuran harga/nilai property oleh pihak yang netral (rekanan bank) baik secara nilai likuid dan nilai pasar. Dimana pengukuran nilai yang di dapat didasarkan dari bumi, bangunan, posisi property, kondisi lingkungan sekitar, dsb...dsb...
Nanti kita bahas ini lebih lanjut yak.. Saya juga akan sertakan contoh appraisal itu kayak apa kok.. Heuheu.. ;P

.Mengapa Appraisal?
Penilaian Appraisal sendiri digunakan oleh banyak Bank karena; NJOP (nilai jual objek pajak) yang tercantum di laporan pembayaran PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) di Indonesia itu suka ngaco.

Walaupun begitu, tidak berarti semua bank melakukan appraisal. Ada beberapa bank yang merasa tidak perlu melakukan appraisal, cukup melihat NJOP di laporan pembayaran PBB tersebut. Dengan catatan; biasanya harga property yang dibeli tidak lebih dari kisaran 2 - 5 milyar rupiah. :)
Dokumen yang dibutuhkan untuk apply KPR


 
*kalau ga jelas, click saja gambarnya ya kawan. supaya jadi BESAR! :))
**dokumen yang dibutuhkan ini kurang lebih sama (updated per : 6 oct 2011)
***ketentuan dokumen yang dibutuhkan bisa berubah - ubah loh :p
****khusus untuk wiraswasta, biasanya di butuhkan copy rekening koran hingga 6 bulan terakhir. Dan usaha sudah berjalan setidaknya 3 tahun. :)
***** Biasanya usia minimum apply KPR di tiap bank ialah : 21 tahun atau sudah menikah
.Fasilitas

Fasilitas yang diberikan antar bank itu berbeda - beda, tapi kurang lebih hampir semua bank memiliki fasilitas seperti dibawah ini :
  • Limit kredit dari Rp 100 juta s.d Rp 10 milyar
  • KPR, Fasilitas kredit hingga 80% dari agunan sesuai appraisal
  • KPA, Fasilitas kredit hingga 70% dari agunan sesuai appraisal
  • Jangka waktu pinjaman yang fleksibel:
  • Rumah, apartemen, ruko, rukan, & tanah dengan tujuan konstruksi: 1 - 20 tahun
  • Bisa membeli "Tanah tanpa tujuan konstruksi", dengan tenor : 1 – 5 tahun (biasa digunain Broker untuk Investasi nih!) :))
  • Fasilitas Auto Debit untuk kemudahan pembayaran cicilan Anda, sehingga dapat membayar tepat waktu
  • Sertifikat aman sampai dengan kredit lunas
  • Perlindungan asuransi jiwa dan kebakaran
  • KPR Take over, yaitu pemindahan fasilitas KPR nasabah yang telah berjalan di bank lain
  • KPR Top-up, yaitu kesempatan untuk memperoleh tambahan nilai pinjaman atas fasilitas
  • KPR dari Bank sebelumnya. :)
______________________________
.Persyaratan
  • Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing (WNA)
  • Usia: minimum 21 tahun atau sudah menikah
  • Maksimum usia 60 tahun pada saat kredit berakhir
  • Domisili: Tentunya ada Cabang Bank Terdekat yang bisa memberikan fasilitas KPR/KPA tersebut.
  • PENTING : Minimum pendapatan suami & istri adalah Rp 5 juta/bulan (take home pay atau netto) a.k.a min Rp. 60 juta/setahun
  • Biaya - biaya yang bisa timbul?
  • Uang Muka (Rp) (biasanya 20 - 30 % dari harga property)
  • Biaya Notaris PK
  • APHT
  • Cek Sertifikat
  • Asuransi Jiwa
  • Kebakaran
  • Provisi a.k.a komisi untuk bank / marketing
    (Biasanya kisaran 0 - 2 % dari jumlah plafon (jumlah yang dipinjam). Tenang, kalo lo keberatan minta aja di putihin a.k.a dibebasin! HAHAHAHA! :))
  • Administrasi
  • Biaya Apraisal

Nah... kurang lebih begitu teman - teman.. Semoga info ini jadi acuan yang cukup baik untuk pertimbangan pembelian rumah teman - teman. ROCK ON! :D \m/
 

Rabu, 05 Oktober 2011

Agar membeli rumah tidak berujung penyesalan (Selesai)

JAKARTA. Dalam banyak kasus, proses membeli rumah dengan sistem oper kredit lebih sulit ketimbang membeli rumah dari pengembang dengan cara mengajukan kredit langsung kepada bank. Bagaimana cara bijak membeli rumah atau apartemen melalui sistem oper kredit?
Berikut lanjutan beberapa tips yang harus Anda perhatikan ketika ingin membeli KPR atau KPA lewat oper kredit, seperti dirangkum KONTAN dari sejumlah perencana keuangan:
3. Lihat sejarah kredit debitur sebelumnya
Poin ini sangat penting, sebab, dalam banyak kasus, debitur sebelumnya ada yang menunggak cicilan KPR atau KPA ke bank pemberi kredit. "Kalau hal ini tidak diperhatikan, pihak pembeli tentu yang akan dirugikan dari proses ini," kata Rakhmi Pematasari, perencana keuangan dari Safir Senduk & Rekan.

Saran senada diungkapkan Mike Rini, perencana keuangan dari MRE Financial & Bussines Advisory. Menurutnya, yang namanya oper kredit KPR atau KPA, bukan semata-mata mengalihkan aset properti, tapi juga mengalihkan utang pemilik lama kepada si pemilik baru. "Anda harus mengetahui, apakah pemilik lama memiliki tunggakan utang atau tidak. Jangan sampai kita membeli rumah yang ada tunggakan utang pokok ditambah bunga dan penaltinya. Ini jelas merugikan," sarannya.
Untuk mengetahui ada atau tidak tunggakan utang cicilan, Anda harus meminta bukti print out pembayaran kredit si pemilik lama. "Intinya, jangan sampai kita beli kucing dalam karung. Kalau si pemilik lama memang tidak sanggup menutupi utang, kita boleh melunasi utang pokok plus bunga. Tapi, tidak beserta penalti tunggakannya," imbuh Mike.

4. Lihat fasilitas rumah

Menurut Mike, ketika berniat membeli rumah baik secara tunai maupun oper kredit, Anda terlebih dulu harus menentukan tujuan. Apakah rumah itu untuk tempat tinggal atau investasi. Nah, jika sebagai tempat tinggal, hal yang perlu dilihat ketika membeli rumah atau apartemen lewat oper kredit adalah sarana beserta fasilitasnya.
Misalnya, kata Mike, apakah rumah yang akan dibeli bisa mengakomodir kebutuhan rumahtangga. Bisa saja ketika membeli rumah oper kredit, Anda belum memiliki anak. "Nah, apakah rumah itu cukup kalau ada anak-anak ke depan. Misalnya, lokasi dekat pasar, jalan tol, fasilitas umum, lingkungannya aman, dan berbagai fasilitas lain," katanya.

5. Periksa dokumen

Pastikan dokumen atau sertifikat rumah yang akan dibeli asli. Tentu, jika rumah KPR atau KPA, dokumen yang asli masih tersimpan di bank yang menyediakan fasilitas kredit kepada pemilik lama. "Tapi, calon pembeli bisa mendapatkan fotokopi dokumen yang ada di pemilik lama. Setelah itu, Anda harus mencocokkan ke bank bersama pemilik lama," kata Mike.
Untuk memastikan, Anda bisa minta bantuan notaris. Sebelum terjadi jual beli, notaris akan mengecek keaslian dokumen. Jika Anda mengambil KPR atau KPA dari bank yang Anda pilih, divisi legal bank akan mengecek keaslian dokumen.

6. Jaga track record

Agar pengajuan kredit disetujui bank, menurut Budi, nasabah perlu menjaga track record kredit. Pasalnya, rekam jejak kredit nasabah tercatat dalam Sistem Informasi Debitur (SID) di Bank Indonesia. SID ini menginformasikan rapor kredit nasabah yang sudah dan pernah menggunakan kredit. "Otomatis, jika rapornya merah atau masuk kategori black list, jenis kredit apapun tidak dapat disetujui bank," imbuh Mike.
Bisa Oper Kredit Lewat Notaris atau Bank
Dengan berbagai alasan, kini banyak masyarakat di tanah air membeli rumah melalui sistem over kredit KPR dan KPA di bank. Namun, proses pengalihan aset properti dan kredit dengan sistem tersebut tidak mudah. Apa yang harus diperhatikan?

Dalam proses over kredit KPR atau apartemen (KPA), terdapat beberapa cara. Masing-masing cara sangat berpengaruh terhadap legalitas dokumen hukumnya. Anda perlu memilih cara mana yang paling aman agar pada saat KPR lunas, Anda bisa mengambil sertifikat rumah di bank dengan mudah dan tanpa kendala.
Salah satunya, proses oper kredit KPR atau KPA bisa memakai jasa notaris. Dalam proses ini, Anda dan penjual menghubungi notaris dan menyampaikan maksud Anda untuk melakukan oper kredit atas rumah pihak penjual.
Di sini, Anda dan pihak penjual wajib menyertakan dokumen pendukung. Sebut saja, fotokopi perjanjian kredit, fotokopi sertifikat yang tertera stempel bank, fotokopi izin mendirikan bangunan (IMB), fotokopi dokumen pajak bumi dan bangunan (PBB) yang sudah dibayar, fotokopi bukti pembayaran angsuran, buku tabungan bernomor rekening untuk pembayaran angsuran, dan data pribadi penjual serta pembeli, misalnya KTP, kartu keluarga, dan buku nikah.
Notaris kemudian membuat Akta Pengikatan Jual Beli (APJB) atas pengalihan hak atas tanah dan bangunan yang dimaksud, berikut Surat Kuasa untuk melunasi sisa angsuran dan kuasa untuk mengambil sertifikat. Selanjutnya penjual membuat surat pernyatan atau pemberitahuan bahwa telah terjadi alih kewajiban dan hak atas kredit dan agunan tersebut. Surat pernyataan ditujukan ke bank.
Sedangkan, proses oper kredit di bank dilakukan berdasarkan sejumlah prosedur. Di antaranya, setelah pihak penjual dan pembeli sudah menyetujui harga oper kredit rumah atau apartemen, maka ada beberapa proses yang harus dilewati. Pertama, pihak pembeli mengajukan aplikasi oper kredit KPR ke bank. Jika permohonan tersebut disetujui, bank akan memberi rincian besarnya dana yang bisa didapatkan pihak pembeli.
Jika kita setuju dengan nilai dana yang akan diberikan bank, bank akan mencairkan dana tersebut setelah semua persyaratan terpenuhi. Bank akan melunasi sisa kredit dari pihak penjual ke bank lama atau mentransfer langsung ke rekening penjual untuk dibayarkan ke bank lama.
Tahapan akhir adalah kita bisa menempati rumah baru setelah proses akad kredit selesai dan melakukan pembayaran angsuran oper kredit rumah itu sesuai perjanjian. "Pemilihan proses perlu dipikirkan masak-masak karena masing-masing cara punya kelebihan dan kekurangan," tandas Rakhmi.

Sumber Kontan

Agar membeli rumah tidak berujung penyesalan (1)

JAKARTA. Memiliki rumah sendiri idaman setiap rumah tangga. Dengan mempunyai rumah sendiri, kita bisa leluasa mengatur rumah tangga, memilih desain rumah, dan mengatur tata letak barang sesuai selera. Walhasil, rumah yang kita tempati akan memberikan rasa aman dan nyaman.

Jadi, wajar jika banyak di antara kita yang bekerja pontang-panting, demi mengumpulkan uang agar dapat membeli rumah. Meskipun, pembelian itu ditempuh dengan cara kredit atau mencicil pembayarannya lewat bank (kredit pemilikan rumah/KPR).

Bahkan, alih-alih mendapatkan rumah idaman yang sesuai anggaran, kini banyak orang membeli dengan cara oper kredit (take over credit). Lazimnya, ini didefinisikan sebagai bentuk dari pengalihan kredit KPR atau kredit pemilikan apartemen (KPA) dari pihak pemilik lama kepada pemilik baru.

Namun, dalam banyak kasus, proses membeli rumah dengan sistem oper kredit lebih sulit ketimbang membeli rumah dari pengembang dengan cara mengajukan kredit langsung kepada bank. Maklum, biasanya dokumen rumah yang akan dibeli sudah tersimpan di sebuah bank, misalnya bank A. Jadi, apabila pihak debitur baru ingin mendapatkan kredit dari bank B, belum tentu bank A bersedia memberikan dokumen tersebut dengan proses cepat dan mudah.

Lebih celaka, tak sedikit masyarakat yang tak memahami tata cara dan prosedur pengalihan KPR atau KPA tadi. Walhasil, niat semula ingin mendapat keuntungan dari membeli rumah atau apartemen dengan oper kredit, mereka justru rugi. Sistem ini bisa sangat berbahaya kalau si pembeli tidak memahami aturannya," kata Rakhmi Pematasari, perencana keuangan dari Safir Senduk & Rekan.

Menurut Rakhmi, bisa saja para debitur lama memiliki masalah pada KPR-nya. Atau, ketika membeli rumah, si debitur baru lebih memilih cara pengalihan kuasa. Padahal, ternyata surat-surat pendukung untuk pengalihan kuasa oper kredit tadi tidak cukup lengkap, sehingga bank menolak memberikan sertifikat asli rumah kepada debitur baru ketika kreditnya telah selesai.

Sudah ada barangnya
Namun, lanjut Rakhmi, membeli rumah melalui sistem oper kredit KPR atau KPA juga memiliki sisi keuntungan. Paling tidak, ketika melakukan oper kredit, rumah atau apartemen sudah serah terima, atau sudah dibangun tapi umurnya belum terlalu lama. Jadi, pembeli sudah langsung punya gambaran kira-kira bentuk rumahnya seperti apa, kekurangan rumahnya di mana, bahkan bisa menghitung kemampuan membayar cicilan.
Menurut Budi Triadi Pratama, perencana keuangan dari Akbar's Financial Check Up, oper kredit properti KPR atau KPA bisa berupa pengalihan antarinstitusi keuangan atau bank. Artinya, KPR atau KPA yang ada di bank A dipindahkan ke bank B. Tentu saja, skema tersebut tak selalu bisa dijalankan. Ini tergantung pada kebijakan antarbank tersebut.

Namun, biasanya, pengalihan kredit dengan skema ini digunakan nasabah demi mendapatkan fasilitas lebih. "Bisa berupa bunga kredit lebih kompetitif, kemudahan dalam pelunasan, skema pelunasan yang lebih fleksibel, atau fasilitas lain yang dinilai lebih daripada fasilitas bank sebelumnya," kata Budi.

Bentuk pengalihan kredit lainnya adalah pengalihan kredit kepemilikan. Singkatnya, kepemilikan properti dari debitur A pindah ke B. Skema ini biasanya menggunakan bank yang sama. Bisa juga menggunakan bank yang berbeda seperti skema sebelumnya. Dalam skema ini, yang perlu diperhatikan adalah kondisi persetujuan kredit yang ingin dialihkan. Sebab, jika pengajuan kredit tidak disetujui, pengalihan tidak dapat terjadi.

Lantas, bagaimana cara bijak membeli rumah atau apartemen melalui sistem oper kredit? Berikut ini beberapa tips yang harus Anda perhatikan ketika ingin membeli KPR atau KPA lewat oper kredit, seperti dirangkum KONTAN dari sejumlah perencana keuangan:

1. Hitung biaya transaksi pembelian

Langkah pertama yang harus diketahui ketika membeli rumah atau apartemen melalui oper kredit KPR atau KPA adalah menghitung terlebih dulu biaya yang akan dikeluarkan untuk proses ini, seperti biaya pembelian ke pihak penjual dan biaya-biaya oper kredit ke bank. "Ini untuk memastikan, apakah KPR atau KPA yang ditawarkan secara oper kredit sepadan atau tidak dibandingkan membeli baru atau tunai," kata Rakhmi.
Mike Rini, perencana keuangan dari MRE Financial & Bussines Advisory menambahkan, sebelum membayar sejumlah uang untuk KPR atau KPA dari pemilik lama, seyogianya Anda melakukan negosiasi terlebih dahulu.
Paling tidak, negosiasi tersebut terkait harga jual properti yang mau dialihkan. Jadi, Anda harus bertanya kepada pemilik lama, berapa tahun sudah mengangsur cicilan rumah. Jika baru membayar cicilan rumah 24 bulan dari jangka waktu 15 tahun cicilan, berarti negosiasi harga rumah di sekitar angka yang sudah dicicil si pemilik lama. "Karena, selama dua tahun itu, dia sudah mendapatkan manfaat rumah yang akan kita beli," kata Mike.
2. Lihat biaya cicilan

Budi mengingatkan, biar bagaimanapun, sistem oper kredit adalah skema berutang. Jadi, Anda perlu memperhatikan kemampuan keuangan. Khususnya, kemampuan dalam mencicil KPR atau KPA. Setelah disetujui memakai fasilitas KPR ataupun KPA, properti tersebut belum langsung menjadi hak nasabah sepenuhnya.
Nasabah masih memiliki kewajiban melunasi utang tersebut. "Properti yang menggunakan kredit baru dapat dinyatakan sebagai aset jika sudah lunas. Jadi, perhatikan kewajiban rutin yang ada alias cicilan," saran Budi. Yang ideal, besar biaya cicilan tidak menambah besar total utang Anda. Total cicilan utang yang boleh dimiliki maksimal 30% dari penghasilan rutin bulanan," ujarnya.

Jika total keseluruhan utang lebih dari 30%, sebaiknya besar utang dikurangi. Caranya, bisa dengan melunasi sebagian utang yang ada atau memperpanjang jangka waktu utang tersebut. Ini dengan ekspektasi nilai cicilan utang bisa berkurang. (bersambung)

sumber Kontan

Penjualan Perumnas baru mencapai 23% dari target

JAKARTA. Penjualan Perusahaan Umum Perumnas masih jauh dari target. Sepanjang semester pertama ini, penjualan Perumnas baru mencapai 23% dari target sebesar Rp 1 triliun untuk tahun ini.

Selama enam bulan pertama tahun ini, Perumnas sudah membukukuan penjualan 3.800 unit rumah atau setara Rp 230 miliar. Menurut Teddy Robinson Siahaan, Direktur Pemasaran Perumnas, penjualan naik 41% dibandingkan periode sama di tahun lalu sebesar Rp 170 miliar.

Padahal, Perumnas menargetkan menjual 20.000 unit rumah sampai akhir tahun. Teddy optimis penjualan bakal melejit pada sisa enam bulan terakhir. "Biasanya memang penjualan baru naik di semester dua. Saat ini ada 8.000 unit rumah sudah booking fee," kata Teddy kepada KONTAN, Senin (18/7).

Teddy tak menampik penjualan lamban karena KPR bisa dilaksanakan kalau rumah selesai terbangun. "Kalau sudah ada atap baru penjualan bisa jalan. Tapi nanti pas November, perbankan mengejar target, jadi pasti penjualan lebih cepat," terang Teddy.

Menurut Teddy sekitar 55% dari total unit terjual sepanjang semester I merupakan kelas menengah ke bawah, yaitu di bawah Rp 70 juta tiap unit. Perumnas menargetkan 50% dari 20.000 unit rumah yang dijual merupakan rumah menengah ke bawah. "Kami selalu berusaha membangun rumah yang harganya bisa dijangkau," klaim dia.
 
Sumber Kontan

Selasa, 04 Oktober 2011

Pembiayaan Hunian Syariah

Pembiayaan Hunian Syariah adalah produk pembiayaan yang akan membantu Anda untuk memiliki rumah (ready stock/bekas), apartemen, ruko, rukan, kios maupun pengalihan take-over KPR dari bank lain.

Peruntukkan :
Perorangan (WNI) cakap hukum yang berusia minimal 21 tahun atau maksimal 55 tahun untuk karyawan dan 60 tahun untuk wiraswasta atau profesional pada saat jatuh tempo pembiayaan

Fitur Unggulan :
  1. Pembiayaan hingga jangka waktu 15 tahun
  2. Uang muka ringan minimal 10%*
  3. Adanya pilihan angsuran tetap hingga lunas atau kesempatan angsuran yang lebih ringan
  4. Plafond hingga Rp 25 miliar
  5. Pelunasan sebelum jatuh tempo tidak dikenakan denda
  6. Dapat digunakan untuk:
    1. pembelian rumah/ruko/rukan/kios/apartemen baru maupun bekas,
    2. take over kpr/pembiayaan sejenis dari bank lain
  7. Nilai pembiayaan yang tinggi hingga 90% dari nilai rumah*
*dari harga perolehan yang diakui Bank.

Fitur Umum :
  1. Berdasarkan prinsip syariah dengan dua pilihan yaitu akad murabahah (jual-beli) atau musyarakah mutanaqishah (kerjasama sewa)
  2. Dapat diajukan oleh pasangan suami istri dengan sumber penghasilan untuk angsuran diakui secara bersama (joint income)
  3. Dapat diajukan dengan sumber pendapatan gabungan dari gaji karyawan dan penghasilan sebagai wiraswasta dan/atau profesional
  4. Untuk akad murabahah dimungkinkan uang muka 0% dengan syarat calon nasabah bersedia menyerahkan agunan tambahan yang diterima oleh Bank
  5. Dilindungi oleh asuransi jiwa sehingga pembiayaan akan dilunasi oleh perusahaan asuransi apabila Anda meninggal dunia
  6. Fasilitas angsuran secara autodebet dari Tabungan Muamalat

Persyaratan Calon Nasabah :
Perorangan (WNI) dengan semua jenis pekerjaan :
karyawan tetap, karyawan kontrak, wiraswasta, guru, dokter dan profesional lainnya

Persyaratan Administratif untuk Pengajuan :
  1. Formulir permohonan pembiayaan untuk individu
  2. Fotocopy KTP dan Kartu Keluarga
  3. Fotocopy NPWP untuk plafond pembiayaan di atas Rp 100 juta
  4. Fotocopy Surat Nikah (bila sudah menikah)
  5. Asli slip gaji & surat keterangan kerja (untuk pegawai/karyawan)
  6. Fotocopy mutasi rekening buku tabungan/statement giro 3 bulan terakhir
  7. Fotocopy rekening telepon dan listrik 3 bulan terakhir
  8. Laporan keuangan atau laporan usaha (untuk wiraswasta dan profesional)
  9. Fotocopy dokumen bangunan yang akan dibeli: SHM/SHGB, IMB dan denah bangunan
Sumber Bank Muamalat

Senin, 03 Oktober 2011

KPR Syariah, Mengapa Asumsi "Bunganya" Disamakan KPR Bank Konvensional?

Pertanyaan
Assalamualaikum Wr. Wb

Melalui rubrik ini saya mau menanyakan perihal KPR syariah yang banyak ditawarkan oleh bank-bank yang berlabel syariah, pertanyaan yang ingin saya sampaikan adalah :

1.    Bagaimana hukum syariahnya?
2.    Mengapa asumsi "bunganya" disamakan dengan KPR bank konvensional?

Saya tunggu penjelasannya. Terimakasih banyak atas perhatiannya.

Wassalamualaikum wr wb

Adi Prasetyo


Jawaban
Waalaikumsalaam wr wb.

Pak Adi yang dirahmati Allah SWT,

Salah satu produk pembiayaan yang telah dikembangkan oleh bank syariah adalah pembiayaan rumah, atau yang sering dikenal dengan istilah KPR syariah. Produk ini memiliki sejumlah alternatif akad yang dapat digunakan.

Secara umum, akad yang sering digunakan dalam pembiayaan rumah ini antara lain adalah murabahah (jual beli dengan marjin profit), terutama untuk rumah yang telah dibangun, dan akad istishna, yaitu pemesanan barang (rumah) dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati, serta pembayaran dengan nilai tertentu yang disepakati pula.

Bisa pula menggunakan akad musyarakah mutanaqishoh. Pada akad ini, bank syariah dan nasabah berkontribusi modal dengan prosentase tertentu, dan nasabah kemudian membeli "saham/bagian" yang menjadi milik bank secara bertahap, sampai kepemilikan rumah tersebut sepenuhnya berada di tangan nasabah.

Dalam memperhitungkan besarnya marjin profit maupun bagi hasil, ada beberapa variabel yang diperhitungkan oleh pihak bank syariah. Variabel-variabel tersebut antara lain adalah biaya tenaga kerja dan operasional, biaya bagi hasil untuk nasabah penabung, deviden, dan lain-lain.

Terkait dengan pertanyaan Bapak, maka :

1.Secara syariah, semua jenis akad yang telah disebutkan di atas, telah sesuai dengan syariah, dan telah difatwakan kebolehannya oleh DSN (Dewan Syariah Nasional) MUI. Sebagai contoh, Fatwa DSN MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah. 

2.Memang sebagian bank syariah ada yang menjadikan bunga sebagai "benchmark" marjin profit yang diambilnya. Sesungguhnya tujuan bank syariah itu agar marjin profit yang diambilnya bisa tetap kompetitif dan tidak lebih mahal, sehingga bisa bersaing dengan "bunga" yang ditawarkan oleh bank konvensional. Kalau terlalu tinggi marjinnya, nasabah akan lari, dan kalau terlalu rendah, bank syariah bisa merugi. Fungsinya hanya sebagai benchmark, tidak lebih dari itu. Proses akad/transaksinya tetap berbeda.

Namun demikian, yang sering menjadi kendala adalah, seringkali para pegawai bank syariah, seperti pegawai customer service, tidak mampu menerangkan secara jelas, apa perbedaan antara marjin profit dan bagi hasil, dengan bunga. Padahal secara konsep dan filosofi jelas-jelas berbeda. Inilah yang kemudian sering menciptakan persepsi bahwa bank syariah dan bank konvensional sama saja. Karena itu, peningkatan kualitas SDM bank syariah menjadi salah satu tantangan yang harus diatasi. Wallahu a'lam.

Wassalaamualaikum wr wb

Dr Irfan Syauqi Beik
Program Studi Ekonomi Syariah, Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB  
syariah@rol.republika.co.id

KPR Syariah CIMB Niaga Tumbuh 80 Persen

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - CIMB Niaga mencatat pertumbuhan signifikan pada bisnis kredit pemilikan rumah (KPR) syariah. Bisnis pembiayaan perumahan ini mencatat persentase pertumbuhan 80 persen menjadi Rp 400 miliar pada Agustus 2011 dari posisi sebelumnya sekitar Rp 200 miliar.
Menurut Head of Consumer Lending CIMB Niaga, Laksmi Mustikaningrat, KPR Syariah memang menjadi alternatif produk yang dicari nasabah. “Bahkan, peningkatannya secara growth lebih baik dari konvensional yang hanya 20 persen,” katanya.
Tetapi sayangnya, KPR Syariah baru bisa dijual aktif di kantor cabang syariah unit usaha syariah (UUS) CIMB Niaga saja. Hingga kini, Laksmi berujar produk ini belum dijual melalui office channeling yakni kantor cabang konvensional.
Ia menuturkan edukasi kepada para pekerja konvensional untuk memasarkan produk ini masih harus dilakukan. Pasalnya, terdapat istilah-istilah syariah seperti akad yang berbeda dengan tata cara konvensional.
Meski demikian, Laksmi optimistis KPR Syariah akan mampu meningkat. Selain minat masyarakat yang sangat tinggi terhadap KPR Syariah, bisnis ini memberi kepastian kepada pelanggan untuk memiliki rumah walau dengan cara mengangsur. “Ini sama saja dengan sewa nyaman,” katanya.
CIMB Niaga menggunakan akad murabahah untuk produk KPR Syariah. Murabahah merupakan perjanjian pembiayaan dengan prinsip jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan bank ditambah dengan keuntungan (margin) yang disepakati.
Redaktur: Didi Purwadi
Sumber Republika

Investasi properti naik, prospek jadi menarik

JAKARTA. Selain meyakini jargon rumahku istanaku, kini semakin banyak orang yang juga menerapkan jargon rumahku investasiku. Alhasil penjualan properti residensial terus meningkat.
Padahal bunga kredit kepemilikan rumah (KPR) saat ini cukup tinggi. Rata-rata bunga KPR yang berlaku sekarang berkisar 9%-12% per tahun. Kendati Bank Indonesia (BI) sudah mengedarkan sinyal akan penurunan bunga acuan, analis menilai, bunga KPR tidak otomatis ikut turun.
Toh analis tetap yakin properti residensial akan tetap laris manis. "Daya beli masyarakat tetap tinggi," ujar Maxi Lestyaputram analis BNI Securities, pekan lalu (30/9).

Tingginya minat konsumen membeli properti residensial, baik sebagai end user maupun investor, membuat kinerja para pengembang kawasan residensial makin kinclong. Para pengembang mencatatkan pertumbuhan marketing sales yang signifikan.

Ambil contoh PT Ciputra Development Tbk (CTRA). Perusahaan properti milik Ciputra ini mencetak marketing sales Rp 2,2 triliun sepanjang Agustus. Padahal sepanjang 2010 lalu, emiten ini cuma mencatat marketing sales sebesar Rp 1,7 triliun.

Sedang PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) membukukan marketing sales Rp 1,96 triliun sampai Agustus lalu. Perusahaan ini menargetkan bisa membukukan marketing sales Rp 2,5 triliun tahun ini.
Maxi menilai, meningkatnya permintaan properti residensial ini mendorong emiten properti terus berekspansi. Emiten memanfaatkan tingginya permintaan pasar untuk menjual proyek mereka sebanyak-banyaknya.

Tengok saja PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Setelah mengembangkan kawasan Kelapa Gading di Jakarta, kini SMRA menggarap tiga proyek lain, yakni Summarecon Serpong, Summarecon Bekasi dan Summarecon Bandung.
Victor G Murthi, analis Indopremier Securities, mencatat SMRA memiliki lahan seluas 1.500 hektare (ha) di Serpong dan 500 ha di Bekasi. Perseroan ini akan mengembangkan kawasan tersebut sebagai perumahan bagi masyarakat kelas menengah.
sumber Kontan

SMF salurkan pembiayaan perumahan lewat BSM senilai Rp 300 miliar

JAKARTA. PT Sarana Multigriya Finasial (SMF) menggandeng Bank Syariah Mandiri (BSM) untuk menyalurkan pembiayaan perumahan senilai Rp 300 miliar.

Mekanisme pembiayaan ini melalui penempatan dana dari SMF kepada BSM dengan bagi hasil berdasarkan metode bagi pendapatan untuk SMF dan BSM berdasarkan nisbah yang telah disepakati.

"Untuk BSM 35% sedangkan SMF 65% ," ujar Direktur Utama SMF Erica Soeroto, Senin (3/10).

Cara ini merupakan salah satu upaya BSM memperoleh sumber pembiayaan pemilikan rumah (PPR) yang nantinya bukan hanya fokus pada konsep Murabahah, melainkan juga musyarakah mutanaqisah.

Musyarakah mutanaqisah merupakan konsep pembiayaan PPR yang nantinya dapat disekuritisasi.

SMF berencana memperbanyak jumlah bank syariah yang akan diajak bekerjasama. Saat ini selain BSM, SMF juga bermitra dengan BTN Syariah.

"Butuh pemain KPR lebih banyak supaya daya saing meningkat. Kita harapkan ada jejak bank syariah lain di BSM," kata Erica.

Outstanding pembiayaan perumahan melalui syariah mencapai Rp 700 miliar.
sumber Kontan