Selasa, 01 April 2014

BTN Tahun Ini Tak Akan Naikkan Bunga KPR

JAKARTA, jktproperty.com - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menegaskan belum akan menaikkan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tahun ini, sementara bunga floating KPR bank BUMN ini berada di kisaran 10-11%. Dirut BTN Maryono mengatakan, hingga kini pihaknya masih akan melihat kondisi market dan ketentuan Bank Indonesia (BI) dalam menetapkan suku bunga acuannya.
"[Kenaikkan suku bunga KPR] tahun ini kayaknya belumlah. Bunga kredit kami tidak serta merta naik. Masih lihat BI rate dulu, lihat market-nya juga seperti apa," kata Maryono pada konferensi pers di Kantor Pusat BTN, Jakarta.
Saat ini, kata dia, suku bunga KPR BTN untuk perumahan subsidi tetap di angka 7,25% dan perumahan non subsidi floating 10-11%. "Bunga masih sama yang disubsidi fix 7,25% dan non-subsidi 10%-11% floating," ujarnya.
Lebih lanjut dia mengatakan pasar perumahan tahun ini masih akan cukup diminati masyarakat mengingat angka kebutuhan rumah dan ketersedian perumahan masih sangat tinggi mencapai 15 juta unit. BTN, demikian Maryono, menargetkan penyaluran kredit tahun mencapai Rp 109,4 triliun, yang mayoritasnya disalurkan untuk KPR terdiri dari KPR subsidi 41,82% dan non subsidi 58,18%. (EKA)

Catat Laba Bersih Rp1,56 Triliun, BTN Tetap Fokus Sebagai Bank Perumahan

JAKARTA, jktproperty.com - PT Bank Tabungan Negara Tbk menegaskan backlog penyediaan rumah bagi masyarakat merupakan potensi bisnis yang sangat besar dan BTN tetap akan fokus sebagai bank peruahan (housing bank) yang memberikan dukungan pembiayaan perumahan bagi masyarakat Indonesia, terutama dalam mendukung program perumahan nasional melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
"Backlog penyediaan rumah bagi masyarakat merupakan potensi bisnis yang sangat besar dan BTN akan bekerja keras menjadi pendamping pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan rumah tersebut. Kami [BTN] akan tetap fokus sebagai bank perumahan di Indonesia," ujar Dirut BTN Maryono kepada pers usai Rapat Umum Pemegag Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta kemarin.
Menurut dia, kinerja BTN hingga kini juga tak terpengaruh adanya rencana Kementerian BUMN yang disebut-sebut tengah melakukan kajian khusus mengenai akuisisi PT Bank Mandiri Tbk (Mandiri) terhadap BTN. Mandiri nantinya akan memegang penuh saham BTN dan menjadi entitas dari bank berlogo pita emas tersebut. Selain Mandiri, BRI juga disebut-sebut berminat mengakuisisi BTN. "Khusus mengenai akuisisi, RUPST tidak membicarakan hal itu, kami tetap fokus pada apa yang menjadi pekerjaan kami," tuturnya.
Berdasarkan kinerja perseroan per 31 Desember 2013 (audited), laba bersih BTN sebesar Rp1,56 triliun atau tumbuh 14,53% dibandingkan perolehan laba 2012. sebesar Rp 1,36 triliun. Perolehan laba ditopang pendapatan bunga bersih (net interest income) sebesar Rp 5,63 triliun. Bank BTN berhasil meraup keuntungan dari pendapatan operasional sebesar Rp2,13 triliun.
Sementara itu RUPST BTN kemarin juga menunjuk empat orang direksi baru untuk diikutsertakan dalam uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) Otoritas Jasa Keuangan (OJK). RUPST menyetujui perubahan pengurus Bank BTN dengan mengangkat Hulmansyah, Sri Purwanto, Rico Budidarmo dan Imam Nugroho Soeko sebagai Direktur Bank BTN. Hulmansyah dan Sri Purwanto merupakan kader dari internal Bank BTN, sedangkan Rico Budidarmo sebelumnya bertugas di Bank BRI dan Imam Nugroho Soeko bertugas di Bank Mandiri.
"Keputusan perubahan pengurus Bank BTN dalam RUPST ini menjadi jawaban sekaligus melengkapi jumlah direksi yang ada selama ini. Diharapkan dengan telah terpenuhinya jumlah direksi maka perseroan akan berjalan normal dengan performa kinerja 2014 yang lebih baik. Kami akan bekerja keras untuk itu," kata Maryono. (EKA)

Senin, 31 Maret 2014

Henghitung suku bunga KPR BTN


KPR BTN Sejahtera FLPP

KPR BTN Sejahtera FLPP merupakan komitmen kami dalam melaksanakan program subsidi pemerintah untuk menyediakan pembiayaan pemilikan rumah tinggal dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

KPR BTN Sejahtera FLPP adalah kredit pemilikan rumah  program kerjasama dengan Kementerian Perumahan Rakyat  dengan suku bunga rendah dan cicilan ringan dan tetap sepanjang jangka waktu kredit, terdiri atas KPR Sejahtera Tapak untuk pembelian rumah Tapak dan KPR Sejahtera Susun untuk pembelian Rumah Susun.

Keunggulan
    Suku bunga 7,25 % fixed sepanjang jangka waktu kredit
    Proses cepat dan mudah
    Uang muka dan biaya proses sangat ringan
    Cicilan sangat ringan
    Jangka waktu sangat flexible s.d. 15 tahun
    Perlindungan asuransi jiwa dan asuransi kebakaran
    Memiliki jaringan kerjasama yang luas dengan developer di seluruh wilayah indonesia

Persyaratan Pemohon
    WNI dan berdomisili di Indonesia
    Telah berusia 21 tahun atau telah menikah
    Belum pernah memiliki rumah/hunian
    Belum pernah menerima subsidi perumahan
   Termasuk dalam kategori Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang memiliki Pekerjaan dan Penghasilan Tetap sebagai pegawai tetap/wiraswasta/profesional dengan masa kerja/usaha minimal 1 tahun
   Memiliki penghasilan pokok maksimal Rp. 3,5 juta per bulan untuk KPR Sejahtera Tapak dan maksimal Rp. 5,5 juta untuk KPR Sejahtera Susun
    Memiliki NPWP Pribadi


 Biaya-biaya
 Provisi, Biaya Administrasi dan Biaya Notaris

Ketentuan Tentang Harga Rumah, Uang Muka dan Maksimal KPR


Info bank BTN

Bunga KPR BTN Tahun Tidak Naik, Maksimal 11%

Jakarta -PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) belum akan menaikkan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tahun ini. Bunga floating KPR bank pelat merah ini ada di kisaran 10-11%.

Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, pihaknya masih akan melihat kondisi market dan ketentuan Bank Indonesia (BI) dalam menetapkan suku bunga acuannya.

"Tahun ini belum lah. Bunga kredit kami tidak serta merta naik. Masih lihat BI rate dulu, market juga," kata Maryono saat acara konferensi persnya di Kantor Pusat BTN, Jakarta, Senin (10/2/2014).

Dia menyebutkan, saat ini suku bunga KPR bank berkode BBTN itu untuk perumahan subsidi tetap di angka 7,25% dan perumahan non subsidi floating 10-11%.

"Kami mempunyai hampir 85% KPR. Bunga masih sama yang subsidi fix7,25%, non subsidi 10-11% floating," ujarnya.

Menurutnya, pasar perumahan di tahun ini masih akan cukup diminati masyarakat mengingat angka kebutuhan rumah dan ketersedian perumahan masih sangat tinggi mencapai 15 juta unit.

"Backlog (kekurangan pasokan) 15 juta unit. Januari tahun ini lebih baik dari Januari tahun lalu. Tahun 2013 kena dampak terutama distorsi adanya peningkatan suku bunga dan LTV tapi BTN antisipasi," terang dia.

Dia menyebutkan, perseroan menargetkan penyaluran kredit tahun ini mencapai Rp 109,4 triliun, yang mayoritasnya disalurkan untuk KPR terdiri dari KPR subsidi 41,82% dan non subsidi 58,18%.

Senin, 03 Maret 2014

BTN-Jamsostek kerja sama pembiayaan perumahan

Sindonews.com - Merespon positif bisnis pembiayaan perumahan di Tanah Air, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) memanfaatkan momentum tersebut dengan melakukan sejumlah langkah strategis, salah satunya tercermin dari penandatanganan kerja sama dengan PT Jamsostek (Persero), Real Estat Indonesia (REI) dan Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi).

Direktur Utama Bank BTN, Maryono menerangkan bahwa penandatanganan kerja sama antara PT Jamsostek (Persero), REI dan Apersi bertujuan memperluas penyediaan rumah bagi peserta Jamsostek dengan fasilitas Kredit Rumah Rakyat (KPR).

"Aksi korporasi ini guna menjawab pasar yang telah merespon positif bisnis pembiayaan perumahaan di Indonesia. Tahun 2013 menjadi momentum bagi Bank BTN dalam penyaluran kredit karena kebutuhan rumah masih sangat tinggi dan tidak sebanding dengan kemampuan untuk menyediakannya," ujar dia di Menara BTN, Jakarta, Senin (1/4/2013).

Melalui kerja sama ini, tiap pihak akan memiliki peran sebagai berikut, Jamsostek akan memberikan data base bagi peserta jamsostek yang belum memiliki rumah. Sedangkan REI dan Apersi akan membangun rumah, sedangkan BTN menyiapkan pembiayaan melalui KPR.

Dengan kerja sama tersebut, Maryono mengharapakan hubungan baik yang telah terjalin sebelumnya antara semua pihak yang terlibat dalam kerja sama ini akan semakin solid demi mencapai cita-cita memberi kesejahteraan kepada masyarakat melalui penyediaan perumahan dengan harga terjangkau.

"Kerja sama ini juga berdampak positif bagi masyarakat dengan strategis bagi positioning dalam penetrasi bisnis di pasar. Hal ini juga memperbesar kapasitas penyaluran kredit di luar yang sudah disepakati dalam program FLPP," ujarnya.

Sementara komposisi kredit Bank BTN pada tahun ini, terbesar masih pada kredit perumahan mencapai 85 persen, sedangkan nonperumahan sekitar 15 persen. "Dengan demikian, kerja sama ini memiliki kompetensi untuk memberikan dukungan guna mengurangi backlog tersebut," imbuh Maryono.

Sumber Sindonews

Minggu, 02 Maret 2014

"BTN Kuasai 98% KPR Menengah ke Bawah"

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) saat ini tercatat menguasai hampir 98 persen KPR bagi masyarakat menengah ke bawah. Hingga saat ini, belum ada satupun bank yang sanggup untuk mengelola dan menyalurkan kredit yang begitu besar untuk masyarakat bawah di Indonesia.

Kesiapan BTN dalam mengelola kredit konstruksi bagi pengembang ini membuat BTN menjadi satu-satunya bank perumahan nasional yang sudah teruji kiprahnya di Indonesia. Namun, meski berkarir cemerlang belakangan ini berhembus kabar kalau Bank BTN akan diakuisisi oleh beberapa Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Anggota Indonesia Property Watch (IPW), seklaigus pengamat properti Ali Tranghanda menyebut kalau jika terjadi pengambil alihan Bank BTN oleh Bank lain seperti yang pernah sempat diisukan juga beberapa tahun lalu,dikhawatirkan fokus usaha akan berubah sehingga pasar perumahan menengah bawah akan terganggu.

"BTN saat ini merupakan bank perumahan. Posisi BTN yang sentral di pasar perumahan menengah bawah menjadi incaran bank lain," ucapnya seperti dilansir dari laman IPW, Senin (17/2/2014).

Selain itu Ali menyayangkan kalau akuisisi ini tidak disertai dengan rencana untuk kemajuan pasar perumahan,melainkan hanya sebatas nilai keuntungan akuisisi dan permainan pasar modal.

"Sebaiknya pemerintah segera mengambil langkah-langkah cepat untuk dapat menyelamatkan Bank BTN sebagai bank perumahan nasional. Tidak ada yang bisa menjamin tersedianya bank yang khusus untuk perumahan ketika BTN diakuisisi oleh bank lain. Buktinya sudah terlihat melalui penyaluran program subsidi FLPP dimana dari semua bank pelaksana, BTN tetap memiliki kontribusi penyaluran 98 persen, meskipun semua bank pelaksana diberikan kuota dana yang sama," tutupnya. (wdi)
sumber okezone

Direksi Baru BTN Janji Fokus ke Bisnis KPR

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) telah menetapkan empat direksi baru. Direksi baru ini pun menyatakan, akan memfokuskan diri ke bisnis inti BTN, yakni kredit kepemilikan rumah (KPR).

Keempat direktur baru tersebut adalah Hulmansyah, yang merupakan mantan Kepala Devisi Internal Audit dan Syariah BTN. Lalu Rico Rizal Budidarmo dari BRI, Sri Purwanto Kepala Devisi Custumer Care BTN. Dan Imam Nugroho Soeko dari Bank Mandiri.Hulmansyah menyampaikan, bahwa bisnis KPR di BTN merupakan bisnis prospek yang sangat besar.

"Proses bisnis KPR di BTN ini sangat menjanjikan, tapi harus terus diperkuat soal SDM-nya. Semoga ini membuat kita lebih kokoh dalam menapaki bisnis-bisnis di BTN ini," katanya.

Sedangkan Rico menyatakan, dirinya ingin meningkatkan pertumbuhan BTN dengan governancing yang tinggi.

"Kita ingin membawa bisnis bank BTN dengan governancing yang tinggi," katanya.

Untuk Sri, dirinya menyampaikan, memiliki visi untuk meningkatkan layanan BTN secara maksimal.

"Kita bisa menggunakan seluruh layanan service ini agar dapat bersaing dengan bank-bank lainnya,"katanya.

Di akhir, Imam menjanjikan, dirinya akan bekerja keras dengan para direksi lain untuk kemajuan BTN ke depan.

 "Saya akan bekerjasama dengan para direksi untu langkah-langkah ke depan seperti apa,"pungkasnya.
(wdi)
sumber okezone

Jangan berharap suku bunga perbankan turun

Merdeka.com - Kondisi perekonomian dunia belum sepenuhnya mengalami perbaikan. Di saat negara-negara maju memulihkan kondisi ekonominya, pertumbuhan ekonomi negara berkembang cenderung melambat. Termasuk yang terjadi di Indonesia.
Bank Indonesia melihat, perlambatan pada kinerja pertumbuhan ekonomi berkorelasi dengan kinerja sektor keuangan, termasuk perbankan. Kenaikan suku bunga Bank Indonesia menjadi salah satu cara memperlambat pertumbuhan ekonomi. Dan kondisi ini secara langsung berdampak pada aktivitas sektor perbankan.
"Ekonomi Indonesia lebih pelan, jadi kalau pertumbuhan ekonomi lebih pelan dampak aktivitas perbankan juga," ujar Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo di Medan akhir pekan ini.
Sejak Juni 2013, perbankan mulai aktif menaikkan suku bunga kredit seiring dengan kebijakan BI yang berturut-turut menaikkan BI Rate hingga sebesar 175 basis poin. Berdasarkan data suku bunga dasar kredit (SBDK) Bank Indonesia per Februari 2014, perbankan telah melakukan beberapa kali penyesuaian, bahkan hingga 300 bps. Jauh di atas kenaikan suku bunga acuan BI.
Menurut data SBDK dari 15 bank besar di Indonesia, kenaikan bunga kredit korporasi berkisar antara 24 bps hingga 200 bps. Sementara untuk kredit ritel naik di kisaran 25 bps hingga 300 bps. Untuk bunga kredit konsumsi non KPR naik di kisaran 24 bps hingga 200 bps. Sedangkan suku bunga dasar kredit KPR naik di kisaran 25 bps hingga 187 bps.
Agus Marto tidak heran dengan fenomena ini. Bahkan, dia meyakini saat ini merupakan masa suku bunga tinggi perbankan. "Yang perlu juga bahwa tingkat bunga tidak akan terwujud pada kondisi yang rendah, karena ke depan itu negara maju, ekonominya pulih negara maju dan tingkat bunga cenderung naik. Kalau naik pengaruh negara berkembang. Jadi sosialisasikan ke pengusaha, pelaku usaha, perbankan bahwa ke depan ini tingkat bunga tidak bisa diharapkan menurun, persiapan diri lebih tinggi," tegas Agus Marto.
Dia tidak ingin terburu-buru memprediksi bahwa bakal ada kenaikan BI Rate dan suku bunga perbankan lagi. "Bahwa tahun lalu sudah ada peningkatan bunga dari deposit bank sampai 300 basis poin, tetapi ternyata terjadi bunga kredit 40 basis poin jadi kemungkinan tingkat bunga yang dibebankan nasabah akan ada peningkatan oleh bank," katanya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis yang menghantam perbankan akibat tingginya suku bunga, bank sentral berharap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa memainkan perannya dengan baik. Yang terpenting, kata dia, mengawasi dan melindungi nasabah.
"Yang perlu perhatikan, musti melakukan pengawasan terhadap nasabah karena yang mempunyai banyak posisi yang 'open' dalam arti meminjam asing (dolar) tapi penghasilan rupiah, itu waspadai," katanya.
[noe]

Bank KPR tinggal cerita jika BTN dicaplok Bank Mandiri dan BRI

Merdeka.com - Isu akuisisi terhadap Bank Tabungan Negara Tbk (Bank BTN) oleh Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia (Bank BRI) semakin berhembus kencang. Sesungguhnya, rencana akuisisi ini sudah diwacanakan sejak era kepemimpinan Menteri BUMN Tanri Abeng.
Pengamat Ekonomi Faisal Basri menjelaskan, lini bisnis utama atau core business pemberian kredit sektor perumahan (KPR) sudah terlanjur melekat dalam diri BTN. Jika BTN dilebur dengan bank BUMN lain, maka kedigdayaan BTN sebagai bank pemberi KPR tinggal cerita.
"Nantinya akan mengganggu fokus morgage bank tersebut. Kalau BTN kan bank khusus morgage bank (KPR). Kalau dibeli salah satu bank BUMN lain, fokusnya pudar," ujarnya kepada wartawan, di Jakarta, Senin (3/2).
Selama ini BTN dikenal sebagai bank pelat merah yang fokus pada pemberian kredit sektor perumahan. Ini terbukti dengan portofolio kredit Bank BTN yang mayoritas berada pada segmen perumahan.
Dari kinerja kuartal terakhir tahun lalu saja, segmen kredit perumahan menjadi nilai jual Bank BTN sebesar 86 persen dan sisanya 13 persen disalurkan pada segmen di luar perumahan. Sementara kredit dan pembiayaan perseroan naik 23,41 persen menjadi Rp 100,46 triliun dibanding kuartal IV 2012 sebesar Rp 81,41 triliun.
Dalam pandangannya, seharusnya tidak perlu ada akuisisi terhadap BTN. Justru sebaliknya, perlu ada penguatan agar BTN semakin tangguh di sektor KPR. "Untuk itu, maka seharusnya tidak perlu ada akuisisi," jelas dia.
Jika BTN dilebur dengan Bank Mandiri dan BRI, Faisal justru meragukan visi pemerintah menyediakan perumahan yang layak dan terjangkau bagi masyarakat.
"Tergantung visi pemegang saham, pemerintah. Kalau memang pemerintah berketetapan hati ingin membesarkan morgage bank untuk memajukan sektor perumahan, ya sudah dia (Bank BTN) jadi bank spesialis. Tidak perlu dibeli bank lain yang punya ciri yang berbeda sekali dengan BTN," ungkapnya.
Sebelumnya, beredar isu yang menyebutkan bahwa Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Mandiri berencana mengakuisisi BTN. Lantaran belum ada kejelasan soal isu ini, Direktur Utama Bank BTN Maryono menanggapi dingin kabar tersebut.
Menurutnya, isu pencaplokan tersebut belum terbukti kebenarannya. Namun pihaknya tidak buru-buru menutup kemungkinan itu.
"Isu itu belum tentu benar dan belum tentu salah. Bukan fakta dan kenyataan. Kami tetap konsentrasi bagaimana meningkatkan performance lebih baik," ujarnya saat acara 'paparan kinerja Bank BTN TW4 2013' di Kantor Pusat Bank BTN, beberapa waktu lalu.
Dia menuturkan, sejauh ini belum ada pembicaraan serius terkait isu akuisisi dua bank pelat merah itu terhadap BTN. "Sampai saat ini manajemen belum pernah diajak bicara masalah akuisisi, baik oleh Bank Mandiri maupun BRI," ungkapnya.
[noe]
Sumber Merdeka

Minat beli properti turun 20 persen akibat bunga KPR tinggi

Merdeka.com - Naiknya suku bunga acuan, BI Rate, mendorong perbankan turut menaikkan bunga simpanan, disusul oleh kenaikan bunga kredit, termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Beberapa bank sempat memberlakukan suku bunga dasar kredit (SBDK) KPR berada di kisaran satu angka, kini SBDK KPR sudah menyentuh dua angka yakni di kisaran 10 persen hingga 12 persen.

Marketing Support Gapura Prima Group, Berly, mengaku naiknya suku bunga KPR berpengaruh terhadap minat masyarakat membeli properti. "Banyak pengaruhnya, orang sekarang lihat suku bunga tinggi, jadi ragu-ragu, dari 7,49 persen (sebelum BI Rate naik) langsung jadi 10,49 persen. 20 persen konsumen mikir-mikir lagi, turun minat beli," kata Berly saat ditemui di pameran properti di Jakarta Convention Centre (JCC), Jakarta, Minggu (9/2).

Hingga saat ini, pihaknya telah bekerja sama dengan tiga bank BUMN dalam hal KPR. Ketiganya mematok bunga di kisaran 10 persen. "BRI, BTN, BNI. Merek patok 10,5 persen, rata-rata," ucap Berly.

Guna mendongkrak kembali penjualan properti, Berly mengaku melancarkan berbagai macam strategi seperti diskon harga. "Strategi pakai promo diskon dan ada gimik, hadiah," ucap Berly.

Dengan kisaran harga antara Rp 700 juta hingga Rp 2 miliar, pihaknya telah mengembangkan properti di 40 lokasi tersebar di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bali. "Lokasi bebas banjir, apartemen. 50 persen konsumen belum buat tinggal, 50 persen buat invest," imbuh Berly.

Senada dengan Berly, Sales Marketing Duta Putra Land Edi mengaku mengalami penurunan minat konsumen membeli properti hingga 20 persen, lantaran kenaikan bunga KPR. "Kita tetap dengan harga yang saat ini berlaku. Calon pembeli mikir ulang. Mereka hold dulu. 20 persenan turun dibanding sebelum bunga naik," kata Edi.

Edi mengaku sudah bekerja sama dengan banyak bank untuk KPR. Semua bank tersebut telah mematok bunga di angka lebih dari 10 persen. "Beberapa bank, BTN, Mandiri, Permata, CIMBNiaga, BNI, BRI, BII. Di atas 10 persen semua," imbuh Edi.

Edi mengaku menjual properti dengan kisaran harga Rp 200 juta hingga lebih dari Rp 1 miliar. Edi melihat, umumnya konsumen yang membeli properti di bawah Rp 700 juta merupakan konsumen properti untuk rumah pertama. Sedangkan, konsumen yang membeli rumah dengan harga lebih dari Rp 700 juta umumnya untuk berinvestasi.

"Peluang properti masih tinggi banget, tapi harganya itu juga tinggi banget," tutup Edi.
[bim]
sumber Merdeka

Jumat, 07 Februari 2014

Suku bunga KPR makin mencekik masyarakat

Merdeka.com - Kondisi perekonomian saat ini memaksa Bank Indonesia (BI) secara bertahap menaikkan suku bunga acuannya atau BI Rate sebesar 1,75 basis poin dari 5,5 persen menjadi 7,5 persen. Kebijakan ini otomatis mendorong perbankan menaikkan suku bunga simpanan, disusul dengan kenaikan suku bunga kredit, termasuk Kredit Pemilikan Rumah.
Naiknya suku bunga KPR membuat nasabah harus rela membayar lebih mahal cicilan rumah setiap bulannya. Bahkan ada yang mengurungkan niat mencicil pembelian rumah. Beban tersebut masih ditambah dengan inflasi, yang secara tahunan mencapai 8,22 persen. Harga rumah yang bisa melonjak hingga 20 kali lipat ditambah inflasi yang meroket, menjadikan keinginan untuk membeli rumah hanya sebatas mimpi.
Salah satu nasabah KPR FLPP bank BUMN, Firda mengaku beruntung memiliki cicilan KPR dengan suku bunga flat selama 10 tahun. Dengan demikian, besarnya cicilan yang harus dibayar setiap bulan sudah bisa diperhitungkan sebelumnya.
"Nggak naik cicilan, soalnya flat FLPP 10 tahun. Tiap bulan hampir Rp 800.000," kata Firda kepada merdeka.com, Selasa (4/2).
Meski cicilan KPR Firda tidak bertambah, namun alokasi dana yang dikeluarkan tetap membesar lantaran kenaikan harga-harga yang menyebabkan inflasi mencapai angka lebih dari 8 persen.
"Porsi uang yang dikeluarkan jadi lebih besar. Kalau kemarin-kemarin kan yang disimpan atau diinvestasikan lumayan banyak, sekarang tergerus," jelas Firda.
Berbeda dengan Firda, Putra mengaku sempat berpikir ulang untuk mengajukan KPR dalam kondisi suku bunga tinggi seperti saat ini. Namun dia terpaksa mengambil risiko harus membayar mahal untuk suku bunga KPR.
"Tetap mengajukan cuma tinggal hitung-hitungan risiko. Kalau nanti-nanti sama aja tidak bisa punya rumah," ungkap Putra.
Hampir semua bank menaikkan suku bunga KPR. Rata-rata suku bunga KPR sudah double digit. Direktur Utama Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, perseroan menaikkan suku bunga kredit untuk semua segmen, mengikuti kenaikan BI Rate. "Kami sudah menaikkan kurang lebih 1 persen," kata Parwati.
Asosiasi pengembang perumahan, Real Estate Indonesia (REI) mengaku harga bahan baku rumah yang terus meningkat, tidak sesuai dengan harga rumah murah yang telah dipatok oleh pemerintah sekitar lima tahun lalu. Harga jual rumah tersebut dinilai terlalu rendah.
"Sekarang harga rumah murah Rp 88 juta dan itu masih dibangun REI dan berlaku sampai saat ini. Cari mobil yang Rp 100 juta saja sudah susah. Berat bagi pengembang untuk menyediakan rumah murah dengan harga itu," ujar Eddy beberapa waktu lalu.
Indonesia masuk kategori negara dengan kebutuhan perumahan yang cukup besar. Sekitar 2,75 juta kebutuhan perumahan di Indonesia, sedangkan yang mampu dipenuhi hanya sedikit. REI sendiri mematok pembangunan Rumah untuk masyarakat kelas menengah ke bawah sekitar 150.000 tahun ini dengan dana sekitar Rp 200 triliun.
Berikut suku bunga KPR yang berlaku di beberapa bank. Namun, suku bunga KPR tersebut belum memperhitungkan komponen premi risiko yang besarannya tergantung masing-masing bank.
Bunga KPR:
BRI: 10,25 persen
Bank Mandiri: 11 persen
BNI: 11,10 persen
BTN: 11 persen
BCA: 10,5 persen
Bank: Danamon 12 persen
CIMBNiaga: 10,8 persen
Permata Bank: 12,5 persen
Panin Bank: 10,73 persen
OCBCNisp: 12,5 persen
BII: 10,77 persen
Bank BJB: 8,93 persen
Bank DKI: 10,8 persen
Sumber Okezone