Selasa, 14 Oktober 2014

Kondisi Ekonomi Global Pengaruhi Penyaluran KPR BTN

Sumber Kompas

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Maryono mengungkapkan pertumbuhan penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) perseroan pada tahun 2014 diperkirakan bakal lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Kondisi ekonomi domestik maupun global menjadi faktor penghambat penyaluran KPR perseroan.

"Memang pertumbuhan lebih rendah dari tahun kemarin. Masalahnya kondisi likuiditas, kondisi ekonomi global," kata Maryono ketika ditemui pada acara halal bihalal di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Senin (4/8/2014).

Selain kondisi perekonomian yang belum kondusif untuk menyalurkan KPR, Maryono menyatakan kondisi politik Indonesia juga menjadi faktor penyebab perlambatan penyaluran KPR. Penyelenggaraan pemilihan umum tahun ini menyebabkan ketidakpastian dan banyaknya pelaku pasar yang wait and seehingga pemerintahan baru terbentuk.

"Faktor kondisinya kondusif. (Jika) likuiditas membaik, (kredit) perumahan akan tumbuh," ujar Maryono singkat.

Secara keseluruhan, target pertumbuhan kredit tahun 2014 sesuai dengan arahan Bank Indonesia (BI), yakni 15 hingga 17 persen. Adapun target penyaluran KPR mencapai kisaran 17 hingga 18 persen. Secara keseluruhan, BTN mengalami penurunan laba bersih di semester I 2014. Penurunan ini disebabkan kenaikan biaya dana akibat tren suku bunga simpanan yang terus naik dalam setahun terakhir.

Laba bersih BTN turun dari Rp 673,35 miliar di Juni 2013 menjadi 539 miliar di Juni 2014 atau turun 19,98 persen year on year. Penyaluran kredit perseroan semester I-2014 sebesar Rp 106,58 triliun, tumbuh 16,61 persen.

Komposisi kredit perseroan terdiri dari kredit perumahan sebesar 88,07 persen, sejalan dengan target perseroan mempertahankan komposisi penyaluran KPR minimal 85 persen.


Bank-bank Besar Turunkan Bunga KPR

Sumber Kompas

JAKARTA, KOMPAS.com - Era bunga kredit pemilikan rumah (KPR) mahal memudar. Apalagi, pasca Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membatasi bunga tertinggi deposito perbankan, awal Oktober ini. Bank-bank besar mulai menggunting suku bunga kredit, termasuk bunga KPR lantaran biaya dana turun.      
Kabar terbaru, tak lama lagi, PT Bank Mandiri Tbk akan menurunkan suku bunga KPR-nya. Pahala N. Mansury, Direktur Keuangan Bank Mandiri mengatakan, Bank Mandiri akan memangkas bunga KPR sebesar 25 basis poin (bps)-50 bps. "Ini khusus untuk KPR berbunga tetap (fix rate) tiga tahun,”  kata Pahala, kemarin (3/10/2014).  
Sedangkan jenis KPR yang lain, lanjut Pahala, masih dalam kajian untuk diturunkan. Kisaran besaran penurunannya pun belum bisa ditentukan karena masih dalam tahap kajian. Per September 2014, suku bunga dasar kredit (SBDK) KPR Bank Mandiri tercatat sebesar 11 persen.  
Sebelumnya, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) lebih dulu menurunkan bunga KPR sebesar 25 bps. Henry Koenaifi, Direktur Konsumer BCA beberapa kala itu bilang, penurunan bunga KPR sejalan dengan penurunan bunga deposito.   
Bunga KPR BCA saat ini berada di level 9 persen - 9,25 persen untuk fix rate selama 1-2 tahun, KPR 9,5 persen untuk 3 tahun, dan 10 persen untuk fix rate 5  tahun. 
Demikian pula dengan PT Bank CIMB Niaga Tbk. Tony Tardjo,Head of Consumer Lending Bank CIMB Niaga mengatakan, CIMB telah menurunkan tingkat bunga KPR  sebesar 50 bps sejak 1 September 2014 lalu untuk permintaan KPR baru. 
Dengan penurunan itu, maka tingkat bunga KPR di CIMB Niaga berkisar mulai dari 9,5 persen untuk fix rate 1 tahun, 10,25 persen untuk 2 tahun, 10,75 persen fix rate 3 tahun, dan 11,5persen untuk fix rate 5 tahun. Sedangkan, tingkat floating rate atau suku bunga mengambang, bunga yang diterapkan CIMB Niaga kini berada di kisaran 12,5 persen hingga 13 persen  .  
BTN pikir-pikir dulu  
Sayang, bank yang fokus di bisnis KPR PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) belum berniat menurunkan suku bunga KPR dalam waktu dekat. Kendati bunga deposito sudah turun, untuk memangkas bunga kredit, BTN masih perlu menunggu perkembangan pasar beberapa bulan ke depan.
Namun, untuk bunga simpanan, Direktur Utama BTN  Maryono bilang, BTN sudah menurunkan bunga deposito dari 10,25 persen menjadi 9,75 persen per 1 Oktober lalu. Kebijakan itu untuk mematuhi kebijakan OJK yang membatasi bunga tertinggi deposito bagi kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) III dan BUKU IV tanggal 1 Oktober.  “Tak serta merta karena ini, bunga kredit kami turunkan,” ujar Maryono memberi alasan.   
Menurut Maryono, dulu saat bunga deposito BTN dinaikkan demi menjaga likuiditas, BTN juga tidak langsung mengerek suku bunga kredit. Sehingga ketika bunga deposito juga turun, tidak otomatis pula bunga kredit ikut melandai. “Kami  menunggu situasi pasar, apakah  perlu diturunkan atau tidak bunga kredit. Maksimal, kita butuh waktu 3 bulan  melihat,” ujarnya.   

Asal tahu saja, BTN masih tergantung pada simpanan deposito sebagai sumber utama dana pihak ketiga (DPK). Dus, faktor cost of fund menjadi penting demi menjaga margin bunga bersih BTN.  Data Bank Indonesia (BI) per Juli 2014 menunjukkan, total dana deposito di BTN mencapai Rp 52,72 triliun. Jumlah ini setara 54,33 persen dari total  dana pihak ketiga BTN. (Adhitya Himawan, Nina Dwiantika)

Suku Bunga KPR BTN Oktober 2014

Last update: 24/10/2013 14:07
Kredit Agunan Rumah
KAR s.d. 100 Juta13.50% p.a.
KAR > 100 Juta s.d. 300 Juta13.00% p.a.
KAR > 300 Juta12.50% p.a.
Last update: 30/09/2013 10:30
Kredit Swadana BTN
Kredit SwadanaBg.Dana+2%
Last update: 14/03/2012 15:10
Kredit Ruko BTN
Kredit Ruko BTN s.d. 100 Juta14.00% p.a.
Kredit Ruko BTN > 100 Juta s.d. 300 Juta13.50% p.a.
Kredit Ruko BTN > 300 Juta13.25% p.a.

Senin, 08 September 2014

Pameran KPR Bersubsidi Tawarkan Rumah Termurah Rp 98 juta

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pameran Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) bersubsidi di Jakarta Convention Center (JCC) yang digelar 3 sampai 7 September 2014 menawarkan berbagai perumahan tapak. Harganya Rp98 juta sampai Rp215 juta per unit.
Berdasarkan pantauan Tribunnews.com, rumah termurah berada di kawasan Green Village dengan harga Rp94,5 juta per unit. Luas bangunannya 30 meter persergi dan luas tanah 60 meter persegi. Rumah di Bogor ini memiliki uang muka Rp3,5 juta.
Soal cicilannya, Ida, Marketing Green Village, mengatakan angsuran dibagi dalam waktu lima tahun dengan cicilan sebesar Rp1,9 juta. Lalu cicilan 10 tahun dengan sebesar Rp1,1 juta per bulan lalu yang paling murah Rp757 ribu per bulan.
"Ini flat dengan bunga sebesar 7,25 persen selama jangka waktu pengambilan cicilan," kata Ida di Jakarta, Kamis (4/09/2014).
Selain tempat tersebut, ada juga perumahan di kawasan Ciomas Bukit Hijau dengan harga Rp215 juta untuk perumahan tapak dengan luas tanah 96 meter persegi dan luas bangunan 45 meter persegi.
Soal cicilannya, perumahan ini memiliki tenor lima sampai 20 tahun dengan besaran cicilan per bulan sebesar Rp1,6 juta hingga Rp3,5 juta per bulan selama masa paling lama 20 tahun.
Adapun mengenai aksesnya perumahan ini berdekatan dengan Jalan Ciomas raya yang tidak jauh dari Stasiun KA Bogor, Terminal Baranangsiang dan Istana Bogor.
Perumahan ini merupakan perumahan yang agak besar dalam pameran ini yang rata-rata luas tanahnya berukuran 70 meter persergi. Sehingga cukup terkesen ekslusif bagi pemburu KPR di JCC.
Mengenai prosesnya bagi para peminat KPR dapat memiliki berbagai persyaratan seperti enam lembar foto copy KTP, KK, surat nikah, foto ukuran 3 x 4 yang terdiri 4 lembar, dan slip gaji asli/keterangan penghasilan.
Adapun ada batas penghasilan bagi yang sudah menikah dengan pendapatan maksimal Rp3,5 sampai dengan Rp4 juta per bulan. Batas usia dibatasi maksimal 55 tahun. Sebagai informasi harga biaya properti di atas sudah termasuk dengan daya listrik 900 watt, air sumur, dan PPH.
Baca Juga:

BI: 73,69% Pembeli Rumah Gunakan KPR

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi sumber pembiayaan favorit bagi konsumen. Hampir sebagian besar konsumen atau 73,69 persen masih menggunakan KPR sebagai fasilitas utama dalam melakukan transaksi pembelian rumah, terutama pada rumah tipe kecil.

Selain KPR, sumber pembiayaan favorit konsumen lainnya adalah tunai bertahap (14,13 persen), dan disusul dengan pembayaran tunai dengan 12,17 persen.

"Sementara utk tingkat bunga KPR yang diberikan perbankan khususnya bank persero masih berkisar 9 hingga 12 persen," tulis survei Bank Indonesia, Rabu (13/8/2014).

Peningkatan yang terjadi pada sektor properti residensial ini juga ikut mengkerek angka penyaluran KPR dan KPA. BI mencatat, penyaluran KPR dan KPA pada triwulan II-2014 sebesar 5,93 persen, dengan total KPR mencapai Rp301.53 triliun. Ini lebih tinggi jika di bandingkan triwulan sebelumnya yang pertumbuhannya hanya 1,14 persen. (wdi)
 
Meutia Febrina Anugrah - Okezone

Bank BUMN Patok Bunga KPR di Kisaran 9-12%

JAKARTA - Tingkat bunga kredit pemilikan rumah (KPR) uang diberikan oleh perbankan, khususnya  kelompok bank persero berkisar antara 9-12 persen.

Yang termasuk bank perseroan adalah empat bank BUMN. Yakni, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).

Sementara, bank swasta nasional menetapkan suku bunga tertimbang KPR maksimum 12 persen, lalu bank asing dan campuran maksimum sekira 9 persen.

Sementara bank pembangunan daerah (BPD) memberikan bunga KPR maksimum di level 13 persen. Demikian terungkap dalam Survei Harga Properti Residensial yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), Kamis (14/8/2014).

Survei tersebut juga menyebutkan jika fasilitas KPR tetap menjadi pilihan utama konsumen dalam membeli properti. Sebanyak 73,69 persen konsumen yang membeli properti, masih memilih KPR untuk membeli properti residensial, terutama pada rumah tipe kecil. (wdi)
 
Widi Agustian - Okezone

Bunga KPR di Singapura 4%, di Indonesia 13%

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bunga Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) yang ditetapkan sejumlah perbankan Indonesia sudah terlalu tinggi.

Namun, pernyataan dari OJK tersebut dibantah oleh Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk Budi G Sadikin. Menurut dia, bunga KPR yang tinggi itu disebabkan oleh tingkat inflasi yang juga tinggi.

"Saat ini bunga KPR di bank tinggi disebabkan oleh inflasi yang juga tinggi. Nah itu yang mesti harus di adjust kita harus turunkan inflasi supaya cost of fund turun. Kalau cost of fund turun maka ratenya bisa turun," ungkap dia.

Ia pun membandingkan bunga KPR bank di Singapura. Ia mengakui, negara maju seperti Singapura saja bisa mematok bunga KPR menjadi 4 persen. "Di Singapura bisa 4 persen, kok di sini bunganya 13 persen." tanyanya.

Selain itu, ia juga membandingkan dengan kisaran bunga KPR yang juga merujuk pada suku bunga deposito.

"Di sini bunga deposito 11 persen, di Singapura bunga deposito 1/4 persen. Kalau ditanya kenapa harga handphone di Indonesia lebih mahal daripada di Singapura. Tergantung modalnya. Kalau dia beli HP 1.000 apa bisa dijual 500? Kan nggak bisa. Di sini bunga deposito sudah 10 hingga 11 persen, jadi kita enggak mungkin lebih rendah daripada 10 hingga 11 persen kalau enggak mau rugi," ungkapnya. (wdi)
 
Hendra Kusuma - Okezone

September, BCA Ingin Turunkan Bunga KPR Hingga 0,5

JAKARTA - Ketatnya likuiditas membuat industri perbankan mencari akal untuk tetap bertahan di tengah persaingan. Salah satu yang sedang mengalami tren kenaikan adalah suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Berbeda dengan bank lain, PT Bank Central Asia (BCA) justeru memiliki rencana lain yaitu menurunkan suku bunga KPR-nya.

"Kita lihat, KPR memang agak melemah, saya memang sedang berpikir di bulan September malah mengurangi (bunga), saya mungkin akan turunkan 0,25 persen hingga 0,5 persen," kata Direktur Utama BCA, Jahja Setiaamadja, Jumat (29/8/2014).

Saat ini suku bunga KPR milik BCA berada di level 9 persen hingga 11,5 persen. Menurut Jahja, alasan BCA menurunkan suku bunga KPR adalah perusahaan ingin meningkatkan kinerja sektor tersebut.

"Kita lihat dengan menurunkan bunga KPR dapat meningkatkan penyaluran kita di KPR, karena kita kan ingin dorong kenaikan di situ," tambahnya.

Sebagai informasi, per bulan Agustus 2014, CIMB Niaga juga menaikkan suku bunga KPR sebesar 25 basis poin atau 0,25 persen. Saat ini rata-rata floating rate KPR sebesar 12,75 persen.

Kemudian Bank Tabungan Negara (BTN) yang pada periode Juli-Agustus, mengalami kenaikan 0,5 persen dengan begitu bunga KPR BTN untuk fixed rate berkisar 11,5 persen. (wdi)
 
Kurniasih Miftakhul Jannah - Okezone

Alasan Bunga KPR Terus Naik


Alasan Bunga KPR Terus Naik

Dani Jumadil Akhir - Okezone
Senin, 8 September 2014 14:40 wib
Alasan Bunga KPR Terus Naik (Foto : Shutterstock)
JAKARTA - Masih nyamannya suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate di level 7,5 persen dan ada isunya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi membuat suku bunga kredit consumer, termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pun ikut terkerek  naik.

"Kalaupun harga BBM naik, paling imbasnya sebentar sekira 2 bulan, lalu setelahnya tumbuh lagi. Indonesia kan kaya, lagi pula likuiditas mulai agak longgar setelah kemarin-kemarin agak ketat," ucap Senior EVP Consumer Finance Bank Mandiri, Tardi saat ditemui di Jakarta, Senin (8/9/2014).

Tardi menjelaskan, memang saat ini BI Rate yang masih di level 7,5 persen membuat sejumlah perbankan nasional menaikkan suku bunga kredit konsumer yang di dalamnya termasuk KPR. Dirinya menyebabkan, alasannya dikarenakan bisnis penjualan rumah dari pengembang skala menengah ke atas telah bergeser dari KPR ke cicilan.

"Segmen KPR memang menurun karena pengembang menengah- atas dulu bisa jual KPR dengan porsi 70 persen, dan 30 persen inhouse, kini kebalikannya. Sekarang cicilan bisa 70 persen dan KPR 30 persen," paparnya.

Tidak hanya itu, lanjut Tardi menjelaskan, pihak pengembang kini mulai bergerak mencari aliran dana masuk untuk memutar bisnisnya dengan cara menawarkan cicilan kepada pembeli. Mulai dari 48 kali, 60 kali bahkan sampai 120 kali.

"Kalau yang beli rumah Rp1 miliar ke atas biasanya sudah punya KPR dan mereka enggak bisa punya lagi KPR karena hanya boleh ambil jika bangunannya sudah jadi. Tapi pengembang kan enggak mau, karena butuh cashflow, akhirnya nawarin cicilan 48 kali, 60 kali hingga 120 kali. Sudah kayak KPR saja padahal dia bukan bank," kata dia.

Apalagi penerapan kebijakan loan to value (LTV) tahun lalu memberikan dampak yang besar terhadap kenaikan suku bunga KPR.

"Pengaruhnya besar sekali sebab KPR pertama boleh inden dan itu mengakibatkan cashflow pengembang tertahan sekali. Sehingga dia memberikan fasilitas cicilan ada yang sampai 120 kali layaknya KPR," pungkasnya. (

Minggu, 07 September 2014

Suku Bunga KPR BCA

KREDIT PEMILIKAN RUMAH
Untuk mengakomodir kebutuhan nasabahnya, BCA memberlakukan suku bunga yang kompetitif dalam setiap produk dan layanannya. Temukan suku bunga masing-masing produk dan layanan BCA di bawah ini.
Fix
& Cap*
Jangka Waktu Suku Bunga (% p.a)
Fix 3 tahun 9,90
Cap 2 tahun 11,00


Fix Rate**
Jangka Waktu Suku Bunga (% p.a)
1 tahun 9,50
2 tahun 9,75
3 tahun 10,00
5 tahun 10,50


Variabel (floating) enam bulanan*** : 12,00% p.a




*) Setelah jangka waktu Fix & Cap selesai, maka suku bunga yang berlaku adalah suku bunga variabel (floating rate) dan ditinjau setiap 6 bulan
**) Setelah jangka waktu fix rate berakhir, suku bunga yang berlaku adalah suku bunga variabel (floating rate) dan ditinjau setiap 6 bulan
***) Suku Bunga ini variabel (floating) enam bulanan hanya berlaku untuk debitur KPR existing dan tidak berlaku untuk debitur baru.
Berlaku efektif : 05 Februari 2014

Rabu, 13 Agustus 2014

BI: 73,69% Pembeli Rumah Gunakan KPR


JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi sumber pembiayaan favorit bagi konsumen. Hampir sebagian besar konsumen atau 73,69 persen masih menggunakan KPR sebagai fasilitas utama dalam melakukan transaksi pembelian rumah, terutama pada rumah tipe kecil.

Selain KPR, sumber pembiayaan favorit konsumen lainnya adalah tunai bertahap (14,13 persen), dan disusul dengan pembayaran tunai dengan 12,17 persen.

"Sementara utk tingkat bunga KPR yang diberikan perbankan khususnya bank persero masih berkisar 9 hingga 12 persen," tulis survei Bank Indonesia, Rabu (13/8/2014).

Peningkatan yang terjadi pada sektor properti residensial ini juga ikut mengkerek angka penyaluran KPR dan KPA. BI mencatat, penyaluran KPR dan KPA pada triwulan II-2014 sebesar 5,93 persen, dengan total KPR mencapai Rp301.53 triliun. Ini lebih tinggi jika di bandingkan triwulan sebelumnya yang pertumbuhannya hanya 1,14 persen. (wdi)


Sumber OKezone