Senin, 08 September 2014

Pameran KPR Bersubsidi Tawarkan Rumah Termurah Rp 98 juta

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pameran Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) bersubsidi di Jakarta Convention Center (JCC) yang digelar 3 sampai 7 September 2014 menawarkan berbagai perumahan tapak. Harganya Rp98 juta sampai Rp215 juta per unit.
Berdasarkan pantauan Tribunnews.com, rumah termurah berada di kawasan Green Village dengan harga Rp94,5 juta per unit. Luas bangunannya 30 meter persergi dan luas tanah 60 meter persegi. Rumah di Bogor ini memiliki uang muka Rp3,5 juta.
Soal cicilannya, Ida, Marketing Green Village, mengatakan angsuran dibagi dalam waktu lima tahun dengan cicilan sebesar Rp1,9 juta. Lalu cicilan 10 tahun dengan sebesar Rp1,1 juta per bulan lalu yang paling murah Rp757 ribu per bulan.
"Ini flat dengan bunga sebesar 7,25 persen selama jangka waktu pengambilan cicilan," kata Ida di Jakarta, Kamis (4/09/2014).
Selain tempat tersebut, ada juga perumahan di kawasan Ciomas Bukit Hijau dengan harga Rp215 juta untuk perumahan tapak dengan luas tanah 96 meter persegi dan luas bangunan 45 meter persegi.
Soal cicilannya, perumahan ini memiliki tenor lima sampai 20 tahun dengan besaran cicilan per bulan sebesar Rp1,6 juta hingga Rp3,5 juta per bulan selama masa paling lama 20 tahun.
Adapun mengenai aksesnya perumahan ini berdekatan dengan Jalan Ciomas raya yang tidak jauh dari Stasiun KA Bogor, Terminal Baranangsiang dan Istana Bogor.
Perumahan ini merupakan perumahan yang agak besar dalam pameran ini yang rata-rata luas tanahnya berukuran 70 meter persergi. Sehingga cukup terkesen ekslusif bagi pemburu KPR di JCC.
Mengenai prosesnya bagi para peminat KPR dapat memiliki berbagai persyaratan seperti enam lembar foto copy KTP, KK, surat nikah, foto ukuran 3 x 4 yang terdiri 4 lembar, dan slip gaji asli/keterangan penghasilan.
Adapun ada batas penghasilan bagi yang sudah menikah dengan pendapatan maksimal Rp3,5 sampai dengan Rp4 juta per bulan. Batas usia dibatasi maksimal 55 tahun. Sebagai informasi harga biaya properti di atas sudah termasuk dengan daya listrik 900 watt, air sumur, dan PPH.
Baca Juga:

BI: 73,69% Pembeli Rumah Gunakan KPR

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi sumber pembiayaan favorit bagi konsumen. Hampir sebagian besar konsumen atau 73,69 persen masih menggunakan KPR sebagai fasilitas utama dalam melakukan transaksi pembelian rumah, terutama pada rumah tipe kecil.

Selain KPR, sumber pembiayaan favorit konsumen lainnya adalah tunai bertahap (14,13 persen), dan disusul dengan pembayaran tunai dengan 12,17 persen.

"Sementara utk tingkat bunga KPR yang diberikan perbankan khususnya bank persero masih berkisar 9 hingga 12 persen," tulis survei Bank Indonesia, Rabu (13/8/2014).

Peningkatan yang terjadi pada sektor properti residensial ini juga ikut mengkerek angka penyaluran KPR dan KPA. BI mencatat, penyaluran KPR dan KPA pada triwulan II-2014 sebesar 5,93 persen, dengan total KPR mencapai Rp301.53 triliun. Ini lebih tinggi jika di bandingkan triwulan sebelumnya yang pertumbuhannya hanya 1,14 persen. (wdi)
 
Meutia Febrina Anugrah - Okezone

Bank BUMN Patok Bunga KPR di Kisaran 9-12%

JAKARTA - Tingkat bunga kredit pemilikan rumah (KPR) uang diberikan oleh perbankan, khususnya  kelompok bank persero berkisar antara 9-12 persen.

Yang termasuk bank perseroan adalah empat bank BUMN. Yakni, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).

Sementara, bank swasta nasional menetapkan suku bunga tertimbang KPR maksimum 12 persen, lalu bank asing dan campuran maksimum sekira 9 persen.

Sementara bank pembangunan daerah (BPD) memberikan bunga KPR maksimum di level 13 persen. Demikian terungkap dalam Survei Harga Properti Residensial yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), Kamis (14/8/2014).

Survei tersebut juga menyebutkan jika fasilitas KPR tetap menjadi pilihan utama konsumen dalam membeli properti. Sebanyak 73,69 persen konsumen yang membeli properti, masih memilih KPR untuk membeli properti residensial, terutama pada rumah tipe kecil. (wdi)
 
Widi Agustian - Okezone

Bunga KPR di Singapura 4%, di Indonesia 13%

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bunga Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) yang ditetapkan sejumlah perbankan Indonesia sudah terlalu tinggi.

Namun, pernyataan dari OJK tersebut dibantah oleh Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk Budi G Sadikin. Menurut dia, bunga KPR yang tinggi itu disebabkan oleh tingkat inflasi yang juga tinggi.

"Saat ini bunga KPR di bank tinggi disebabkan oleh inflasi yang juga tinggi. Nah itu yang mesti harus di adjust kita harus turunkan inflasi supaya cost of fund turun. Kalau cost of fund turun maka ratenya bisa turun," ungkap dia.

Ia pun membandingkan bunga KPR bank di Singapura. Ia mengakui, negara maju seperti Singapura saja bisa mematok bunga KPR menjadi 4 persen. "Di Singapura bisa 4 persen, kok di sini bunganya 13 persen." tanyanya.

Selain itu, ia juga membandingkan dengan kisaran bunga KPR yang juga merujuk pada suku bunga deposito.

"Di sini bunga deposito 11 persen, di Singapura bunga deposito 1/4 persen. Kalau ditanya kenapa harga handphone di Indonesia lebih mahal daripada di Singapura. Tergantung modalnya. Kalau dia beli HP 1.000 apa bisa dijual 500? Kan nggak bisa. Di sini bunga deposito sudah 10 hingga 11 persen, jadi kita enggak mungkin lebih rendah daripada 10 hingga 11 persen kalau enggak mau rugi," ungkapnya. (wdi)
 
Hendra Kusuma - Okezone

September, BCA Ingin Turunkan Bunga KPR Hingga 0,5

JAKARTA - Ketatnya likuiditas membuat industri perbankan mencari akal untuk tetap bertahan di tengah persaingan. Salah satu yang sedang mengalami tren kenaikan adalah suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Berbeda dengan bank lain, PT Bank Central Asia (BCA) justeru memiliki rencana lain yaitu menurunkan suku bunga KPR-nya.

"Kita lihat, KPR memang agak melemah, saya memang sedang berpikir di bulan September malah mengurangi (bunga), saya mungkin akan turunkan 0,25 persen hingga 0,5 persen," kata Direktur Utama BCA, Jahja Setiaamadja, Jumat (29/8/2014).

Saat ini suku bunga KPR milik BCA berada di level 9 persen hingga 11,5 persen. Menurut Jahja, alasan BCA menurunkan suku bunga KPR adalah perusahaan ingin meningkatkan kinerja sektor tersebut.

"Kita lihat dengan menurunkan bunga KPR dapat meningkatkan penyaluran kita di KPR, karena kita kan ingin dorong kenaikan di situ," tambahnya.

Sebagai informasi, per bulan Agustus 2014, CIMB Niaga juga menaikkan suku bunga KPR sebesar 25 basis poin atau 0,25 persen. Saat ini rata-rata floating rate KPR sebesar 12,75 persen.

Kemudian Bank Tabungan Negara (BTN) yang pada periode Juli-Agustus, mengalami kenaikan 0,5 persen dengan begitu bunga KPR BTN untuk fixed rate berkisar 11,5 persen. (wdi)
 
Kurniasih Miftakhul Jannah - Okezone

Alasan Bunga KPR Terus Naik


Alasan Bunga KPR Terus Naik

Dani Jumadil Akhir - Okezone
Senin, 8 September 2014 14:40 wib
Alasan Bunga KPR Terus Naik (Foto : Shutterstock)
JAKARTA - Masih nyamannya suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate di level 7,5 persen dan ada isunya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi membuat suku bunga kredit consumer, termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pun ikut terkerek  naik.

"Kalaupun harga BBM naik, paling imbasnya sebentar sekira 2 bulan, lalu setelahnya tumbuh lagi. Indonesia kan kaya, lagi pula likuiditas mulai agak longgar setelah kemarin-kemarin agak ketat," ucap Senior EVP Consumer Finance Bank Mandiri, Tardi saat ditemui di Jakarta, Senin (8/9/2014).

Tardi menjelaskan, memang saat ini BI Rate yang masih di level 7,5 persen membuat sejumlah perbankan nasional menaikkan suku bunga kredit konsumer yang di dalamnya termasuk KPR. Dirinya menyebabkan, alasannya dikarenakan bisnis penjualan rumah dari pengembang skala menengah ke atas telah bergeser dari KPR ke cicilan.

"Segmen KPR memang menurun karena pengembang menengah- atas dulu bisa jual KPR dengan porsi 70 persen, dan 30 persen inhouse, kini kebalikannya. Sekarang cicilan bisa 70 persen dan KPR 30 persen," paparnya.

Tidak hanya itu, lanjut Tardi menjelaskan, pihak pengembang kini mulai bergerak mencari aliran dana masuk untuk memutar bisnisnya dengan cara menawarkan cicilan kepada pembeli. Mulai dari 48 kali, 60 kali bahkan sampai 120 kali.

"Kalau yang beli rumah Rp1 miliar ke atas biasanya sudah punya KPR dan mereka enggak bisa punya lagi KPR karena hanya boleh ambil jika bangunannya sudah jadi. Tapi pengembang kan enggak mau, karena butuh cashflow, akhirnya nawarin cicilan 48 kali, 60 kali hingga 120 kali. Sudah kayak KPR saja padahal dia bukan bank," kata dia.

Apalagi penerapan kebijakan loan to value (LTV) tahun lalu memberikan dampak yang besar terhadap kenaikan suku bunga KPR.

"Pengaruhnya besar sekali sebab KPR pertama boleh inden dan itu mengakibatkan cashflow pengembang tertahan sekali. Sehingga dia memberikan fasilitas cicilan ada yang sampai 120 kali layaknya KPR," pungkasnya. (

Minggu, 07 September 2014

Suku Bunga KPR BCA

KREDIT PEMILIKAN RUMAH
Untuk mengakomodir kebutuhan nasabahnya, BCA memberlakukan suku bunga yang kompetitif dalam setiap produk dan layanannya. Temukan suku bunga masing-masing produk dan layanan BCA di bawah ini.
Fix
& Cap*
Jangka Waktu Suku Bunga (% p.a)
Fix 3 tahun 9,90
Cap 2 tahun 11,00


Fix Rate**
Jangka Waktu Suku Bunga (% p.a)
1 tahun 9,50
2 tahun 9,75
3 tahun 10,00
5 tahun 10,50


Variabel (floating) enam bulanan*** : 12,00% p.a




*) Setelah jangka waktu Fix & Cap selesai, maka suku bunga yang berlaku adalah suku bunga variabel (floating rate) dan ditinjau setiap 6 bulan
**) Setelah jangka waktu fix rate berakhir, suku bunga yang berlaku adalah suku bunga variabel (floating rate) dan ditinjau setiap 6 bulan
***) Suku Bunga ini variabel (floating) enam bulanan hanya berlaku untuk debitur KPR existing dan tidak berlaku untuk debitur baru.
Berlaku efektif : 05 Februari 2014

Rabu, 13 Agustus 2014

BI: 73,69% Pembeli Rumah Gunakan KPR


JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi sumber pembiayaan favorit bagi konsumen. Hampir sebagian besar konsumen atau 73,69 persen masih menggunakan KPR sebagai fasilitas utama dalam melakukan transaksi pembelian rumah, terutama pada rumah tipe kecil.

Selain KPR, sumber pembiayaan favorit konsumen lainnya adalah tunai bertahap (14,13 persen), dan disusul dengan pembayaran tunai dengan 12,17 persen.

"Sementara utk tingkat bunga KPR yang diberikan perbankan khususnya bank persero masih berkisar 9 hingga 12 persen," tulis survei Bank Indonesia, Rabu (13/8/2014).

Peningkatan yang terjadi pada sektor properti residensial ini juga ikut mengkerek angka penyaluran KPR dan KPA. BI mencatat, penyaluran KPR dan KPA pada triwulan II-2014 sebesar 5,93 persen, dengan total KPR mencapai Rp301.53 triliun. Ini lebih tinggi jika di bandingkan triwulan sebelumnya yang pertumbuhannya hanya 1,14 persen. (wdi)


Sumber OKezone

Bunga Kpr bca belm di turunkan

JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyebutkan masih enggan menurunkan bunga Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Pasalnya, kondisi perekonomian saat ini berbeda dengan kondisi perekonomian dahulu kala.

"Kalau dulu kan likuiditas membanjir, kalau saat ini saya lihat keliatannya susah untuk turun, karena permintaan kredit masih besar padahal kenaikan DPK tidak seperti dulu," kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja saat acara Halal Bihalal di Gedung CIMB Niaga, Jakarta, Rabu (13/8/2014).

Jahja menuturkan, dengan likuiditas yang masih ketat, besar kemungkinan bunga KPR BCA untuk saat ini hanya bertahan. Saat ini, portofolio KPR BCA sendiri kurang lebih sebesar Rp40 triliun. Di mana, bunga tersebut untuk kelas menengah ke atas.

"Seinget saya sekitar Rp40 triliun lebih, enggak ingat persis, untuk bunga menengah ataslah yah," tambahnya.

Tidak hanya itu, sambung Jahja, BCA juga masih enggan menurunkan bunga kredit. Di mana, untuk menurunkan bunga kredit, BCA harus memastikan cost of fund sudah mengalami penurunan.

"Permasalahannya kita kan mau membatasi kredit, kalau permintaan turun, terus  permintaan meningkat lagi, pusing lagi, likuiditas ketat lagi," tutupnya. (wdi

Sumber okezone

Kamis, 03 Juli 2014

8 BPD Masih Setia Berikan Bunga KPR Rendah

RumahCom – Bank Pembangunan Daerah (BPD) tercatat sebagai bank yang masih setia memberikan suku bunga KPR (kredit pemilikan rumah) murah. Berdasarkan data suku bunga dasar kredit (SBDK) yang dirilis Bank Indonesia, dari 13 bank pemberi bunga KPR single-digit di bawah 10%, delapan di antaranya adalah BPD.
BPD Sulawesi Tenggara adalah bank yang menawarkan bunga KPR terendah, yakni 7,28%; sementara Bank Yudha Bhakti merupakan bank dengan bunga KPR tertinggi, yaitu 17,19%.
Informasi SBDK yang dipublikasikan BI didasarkan atas laporan yang disampaikan oleh bank kepada BI untuk posisi akhir bulan laporan. Informasi SBDK tersebut dapat saja berbeda dengan yang dipublikasikan pada papan pengumuman di setiap kantor Bank, website bank dan/atau surat kabar antara lain karena menggunakan posisi data yang berbeda. Konfirmasi atas kebenaran data dan/atau keterkinian data langsung ditujukan kepada bank yang bersangkutan.
Berikut ini data SBDK hingga akhir April 2014:
BPD Sulawesi Tenggara (7,28%)
BPD Jawa Tengah (7,39%)
Bank Woori Indonesia (7,86%)
BPD Jambi (7,86%)
BPD Yogyakarta (8,83%)
BPD Jawa Timur (8,99%)
Bank Standard Chartered (9,10%)
Bank HSBC  (9,50%)
Bank Hana (9,50%)
BPD Nusa Tenggara Timur (9,54%)
BPD Bali (9,62%)
BPD Kalimantan Timur (9,73%)
Bank Artha Graha Internasional (9,96%)
Anto Erawan

Ikuti BI rate, BCA naikkan suku bunga KPR bulan depan

Merdeka.com - Setelah menaikkan suku bunga deposito dari 3,75 persen menjadi 5,5 persen, PT Bank Central Asia Tbk berencana menaikkan suku bunga kredit sebesar 0,5 persen hingga 1 persen.
"KPR 0,5-1 persen, jadi sekitar 8-9 persen, tergantung tenor," kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja di Hotel Indonesia Kempinski, Senin (15/7).
Jahja mengatakan, perseroan akan memberlakukan ketentuan suku bunga kredit yang baru, mulai awal bulan Agustus 2013. Suku bunga kredit tersebut baru diberlakukan untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB).
"Bulan depan, KKB juga. Kredit lain sudah naik lebih dahulu. Kan DPK sudah lebih dulu naik. (Sektor kredit) Merata, korporasi, SME (small medium enterprises), konsumer naik. Kredit (naik) 0,25 persen bulan Mei, bulan ini (naik) 0,5 persen," tutur Jahja.
Perseroan mematok target pertumbuhan kredit sepanjang 2013 mencapai kisaran angka 18 persen hingga 20 persen. "KPR tumbuh 75 persen (tahun) 2011, 50 persen (tahun) 2012, tahun ini 25-30 persen. Tahun ini overall (kredit) kita prediksi mau 18-20 persen," ungkap Jahja.
Kendati terjadi perubahan BI rate yang mendorong naiknya suku bunga perbankan, Jahja mengaku, perseroan tidak melakukan revisi target dalam rencana bisnis bank (RBB) yang diajukan ke Bank Indonesia tengah tahun ini. "Gak ada revisi target," tutup Jahja.